Read Time:1 Minute, 35 Second

Warisan – Kematian tidak pernah menakutkan bagi mereka, mereka hanya takut jika perutnya tidak terisi penuh; merasa risau jika ada yang mengatakan:

Jatah kami sebagai rakyat di kantong jasnya dan di dasinya nafas kami digantung

Kehidupan bagi mereka tidak lebih dari perjudian kartu – Texas Holdem – yang hanya menyebutkan siapa pemenangnya.

Kita tak lebih dari onggokan daging
berakhir di mulut-mulut para babi
dilumat habis tak tersisa, di pinggiran bibirnya
kan kau temukan sisa-sisa kepalsuan
sengaja dibiarkan.

Untuk apa?
Untuk kalian ketahui,
bahwa masih banyak
sabda mereka yang lebih basi
seperti nasi yang dibiarkan
berminggu-minggu. Dipenuhi ulat
dan membusuk ke penjuru negeri.

Negeri yang luas ini seperti gelanggang bagi mereka untuk bertaruh perihal kekuasaan dan mereka tidak pernah mengenal kata “ampun” bagi siapapun yang menghalangi kejayaannya.

Pojok negeri ini menceritakan
kisah carut marutnya kehidupan
kaum terbawah dan dipinggirkan.

Mereka yang mengantongi puluhan juta
mana mau mengunjungi kami – kata salah satu kawanku
yang waktu itu mati terkapar di bumi pertiwi
untuk mempertahankan warisannya.

Ada juga yang menangis di reruntuhan
dan hanya bisa menatap alat berat meratakan rumahnya
dalam isaknya ia berkata:
“Kelak, jiwa-jiwa kami seperti gembala
dan tubuh kami ini hanyalah kambing
di padang sahara”.

Kami terpinggirkan dari tanah sendiri dan meninggal di bawah jembatan tanpa pernah merasakan kasur yang empuk. Kelak jika negeri ini telah menjadi lautan darah dan ambang pintunya tak lebih tipis dari kapas, semoga saja orang-orang selain kami bisa merasakan atap rumah yang menenangkan dan menyelematkan dari terik.

Doa-doa kami tetap melangit, meninggi dan tak pernah merasa takut tersangkut bintang-bintang kemudian diambil oleh Ifrit dan dibawa ke neraka.

Bagi kami orang-orang yang terbiasa bertarung dengan nasib, merasa terjajah dan merasa asing di negeri sendiri adalah satu keharusan untuk tidak menyerah dan tunduk pada penindasan. Kami tetap berpegang teguh, budi luhur adalah hal yang utama dan perihal melawan bukanlah pengekakan melainkan menunaikan kewajiban; melepaskan diri kebejatan dan kemungkaran.

Yogyakarta, 05 Februari 2020

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *