Categories
Naskah Lama Puisi

Tentang Sebuah Kabar dan 7 (Tujuh) Puisi Lainnya

Tentang Sebuah Kabar sendiri adalah salah satu judul puisi dan sengaja dijadikan judul inti, karena puisi ini untuk mengabarkan sebuah kisah kepada para pembaca. Tentang Sebuah Kabar dan 7 Puisi Lainnya merupakan serangkaian puisi yang ditulis pada tahun 2016. Kumpulan puisi ini tidak hanya terdiri dari satu cerita namun dari beberapa latar, untuk lebih jelasnya silahkan dibaca. Semoga kumpulan puisi “Tentang Sebuah Kabar” ini bisa menginspirasi dan memberikan manfaat

Doa Suci Kehidupan

Dia ada di sini, sebelum kau pergi
Dia ada di sini, segala hal yang terjadi
Menjadi bukti bahwa setia itu berbakti
bukan mengingkari dan melukai.

Setelah luka yang ditinggalkan
menyesakkan dada dan redupkan harapan.

Jiwaku tenggelam dalam
dari pinggir pantai, terlihat lebam
sebuah luka menghapus jejak kaki terpendam.
Kulihat segala harapan hilang dan kutemukan
diriku terisak diam meratapi kehilangan.

Ada sebuah kepercayaan
memperlihatkan kebenaran kecil melalui bisikan:

“Aku masih di sini, menunggumu berjuang
Aku masih di sini, setia menemani
dari balik bayang-bayang yang tak pernah kau ketahui.

Percayalah, bahwa terang menunggumu
maka datanglah engkau dengan
membawa kedewasaan.

Biarkan saja Tuhan menjelaskan
dan mengajarkan cara-cara berjuang
dari doa-doa suci kehidupan”.

Pencarian tak pernah berhenti
meski jalannya penuh liku dan duri
karena keyakinan terus menemani.

Aku yang terus berjalan, menapaki sebuah jalan
dan menyusuri dunia penuh legam.
Percayalah, bahwa masa silam adalah kelam
di dalamnya terdapat pelajaran-pelajaran,
membawa kedewasaan dan kebenaran
seperti halnya cinta yang lahir atas kehendak-Nya.

  • Doa Suci Kehidupan adalah sebuah puisi yang semula berjudul Dia Di sini, Bersamamu ditulis pada Januari 2016 dan telah diperbaharui.

Peradaban

Qou Vadis?
Ke manakah sebenarnya angin berhembus membawa kehidupan?
Pun sebelum matahari terbit dan tenggelam
di manakah ia bermalam?

Luz Milagros Veron
Cahaya dan keajaiban; cinta dan pengabdian
disatukan mencari tempat bernaung dan menetap
di dalam hati dan jiwa.

Vox Dei dan Vera
Suara Tuhan adalah kejujuran dan kebenaran
berpadu untuk selamanya
membentuk peradaban lalu
mengajarkan manusia tentang keabadian.

Yogyakarta, 19 Januari 2016

Namamu Doa-Doa

/1/

Ada puisi yang sering kali lupa kubacakan
Kalimatnya tak pernah tersentuh juga terjamah
Ketika kusebut dan kujelaskan
Selip sedih meneriaki dari balik kejadian
Ia meraung sejadi-jadi seakan
mati adalah pengganti.

Setelah sepekan berlalu hatiku masih dihantui gemuruh
Namamu mengulang daftar panjang
kehidupan yang semula lupa kuselipkan,
meminta persembahan dan pertanggung jawaban.

Ombak dan gelombang membentur keras kepalaku
Pikiran berdarah dan pengetahuan tercabik karang
Sedangkan ilmu hampir terbunuh
oleh bengisnya keegoisan dan kesesatan.

Namamu yang terbilang sedikit dipuisikan orang
mengantar duka pada kelalaian. Ia menjadi bukti
sebuah sejarah, aku yang dustakan hadirmu.

/2/

Tersisa jerit di hembus angin
yang meniup sepi bunyi-bunyi.
Pada tabahnya nyanyian-nyayian
dunia kembali pada namamu
yang sebelumnya tak pernah kupahami.

Setelah namamu tersanding dalam hidup
yang semula sepi. Namamu adalah doa-doa
mengantarkanku pada peradaban dunia.

Kini sejarah baru dimulai
menulis dan merangkai banyak pengertian.
Setelah sebelumnya lupa membuat pengantar
dan penjelasan, rupanya hidup
adalah permintaan dan pengabulan.

Kini pemahaman mulai utuh
namamu kembali hidup menyeluruh
dalam dada dan benak pikirku.

Aku … telah kembali pada dunia
menjelaskan semua makna kehidupan.

  • Namamu Doa-Doa adalah puisi yang sebelumnya berjudul Angin Meniup Sepi, untuk menemukan kecocokan dan kesesuaian konteks maka dilakukan perombakan. Puisi ini ditulis pada 06 Februari 2016 dan telah diperbaharui.

Tentang Sebuah Kabar

Di bawah rindang kehidupan
Tenggelamlah awan pekat tak berkesudahan

Di sini gundah tak terelakkan
Mendung serupa badai menghantam harapan
ketika orang-orang berlayar menyeberangi lautan.

Aku mencoba menenggelamkan ingatan
dan sebuah kenang:
Tentang bagaimana kita berpetulang
Tentang apa yang dulu kita lakukan

Ini adalah sebuah cerita tentang kawan
dan kampung halaman yang jauh tertinggal.
Tentang sebuah kabar yang tidak pernah
disebutkan, dalam sejarah dan pengetahuan.

Sedang apa kau saat ini, kawan?
Menghitung pertemuan selepas fajar
ketika subuh memanggil
dari balik selimut orang-orang
yang lupa waktu dzikirnya.

Sebelum kenyataan menyapa dengan salam
dan kematian yang terus tergiang.
Telah kubingkai keadaan, pada hidup
yang tak banyak dipahami orang.

Semoga esok aku masih sempat
berlari mengejar ketertinggalan.
Memacu langkah sebelum kau kembali
jauh dari pandangan.

Merangkum kenang sebelum perjumpaan
bahwa yang hidup adalah kampung halaman
dan kamu, sahabat perjalanan
menertawakan banyak kealpaan
tentang sebuah kabar yang tak disebutkan.

Yogyakarta, 06 Februari 2016

Darma Satu

Selip sedih meneriaki
Meraung nama kekasihnya dalam sunyi
Ada puisi yang sering kali lupa kupahami;
dibiarkan busuk tak tersentuh; ditinggalkan lalu mati.

Namamu, masih di sini menjadi isi dalam
kalimat tunggal tanpa spasi.
Namamu masih di sini, rundung lara membawa arti.

Terselip sedih dalam hati
Salamku, untukmu yang telah pergi
Berpulang, didekap Tuhan menjadi bukti
Engkau, nisbah cinta utuhkan segala janji

Hiduplah dalam damai
Cinta dan kamu, selalu abadi
menjadi bahan inspirasi
di darma satu rasa yang Tuhan beri.

  • Darma Satu adalah puisi dengan judul asli Namamu Di sini, ditulis pada 06 Februari 2016 dan telah diperbaharui.

Doa dan Harapan

Ke mana hidup akan membawamu pulang
Lurus ke depan menunggu cahaya terang
atau menunggu keajaiban datang menjelaskan
kisah yang tertinggal di belakang.

Deretan panjang daftar tak pernah tumbang
Ia masih berjuang meski alam tak lagi membentang
karena doa dan harapan masih melekat dalam ingatan.

Cinta adalah perasaan yang lupa mengabarkan
bagaimana seharusnya luka disembuhkan.
Dan rindu adalah perjanjian-perjanjian
yang tidak pernah dijelaskan pertemuan.

Dari sekian kepedihan dan kebahagian,
penjelasan setiap rasa yang tumbuh
dan setiap luka yang sembuh
adalah sebuket mawar berduri.

Sebelum akhirnya ketabahan memberi pengertian
bahwa doa dan harapan selalu mampu
meredam kenestapaan dalam damai yang sesungguhnya.

Yogyakarta, 10 Februari 2016

Cinta Adalah Doa-doa

/1/

Pada kata yang sukar dimengerti dan
ujung pena, secarik lembar kusam
lapuk dimakan perpisahan.
Puisi dan segala isinya
adalah air mata, penebus timbulnya sebuah dosa.

Pada kata yang terlupa maknanya
Cinta adalah ruang hampa
dari segala semoga dan angan-angan.
Membawa terbang kebahagian dan menurunkan kepedihan
sebelum akhirnya Tuhan menyelamatkan.

Prosaku rintihanmu dan sajak-sajakku
adalah pengantar lembut tutur bahasamu.
Pada tubuh kalimat dan ayat-ayat, sepenggal
salam diucapkan tubuh.
Perih legam hidup adalah aku
bercampur darah tetes keringatmu.

Secarik kertas kusam di meja belajarku
Bukti perjalanan yang tidak pernah dikisahkan
dan didongengkan malam pada gelap kehidupan.
Tetaplah tenang penuh kedamaian, aku akan menjemputmu
dari segala hal menyakitkan.

Desah dan rintih telah sampai pada telaganya
Cinta, kesetiaan, perasaan, dan air mata
sebatas penggalan yang tak bisa dipahami maknanya.

Maka, tetaplah tenang dan damai, kekasihku
Setelah keadaan buruk, cinta akan datang
menjemput kebahagiaan.

/2/

Tahukah kamu apa yang diceritakan keadaan kepada waktu
dan fakta apa yang dijelaskan kenyataan kepada masa?

“Cinta adalah doa-doa setelah jatuh
luka dan air mata membasuh segala hal menganga”.

Kemarilah, sayangku …
Akan kuceritakan sebuah kisah
yang lupa didongengkan ibumu.
Biarkanlah tubuhmu mendekat
dan biarkanlah cintamu didekap.

Kemarilah, sayangku …
Akan kuberitahu sebuah rahasia
yang belum pernah disampaikan siapapun
bahkan waktu sekalipun.
Lekaslah berbalik arah
dan biarkan keinginan membimbingmu ke sisiku.

“Harapan adalah mitos yang diciptakan akal sebagai pernyataan
fakta bahwa dunia hanya sementara.
Manusia sibuk dengan cintanya dan
lupa bahwa segala sesuatunya telah ada,
diatur oleh-Nya, yang Maha Penguasa”.

Pengganti Sajakku

Ketika jantung bergemuruh
Cinta kokoh dan tak kenal rapuh
Rinduku, segala isi tertuang menyeluruh
Tentangmu dan rasa yang tumbuh

Berbaris doa ketika ayat terbaca
Ikhtiar panjang serupa jalan membentang
dari ruas-ruas jalan halaman kota.
Aku adalah arah, menujumu
dalam diam dan zuhudnya segala perilaku.

Terhimpun cinta dalam doa
ketika semesta bercerita.
Tuhan yang Esa bersabda:

“Doa-doa adalah upaya dan cinta
adalah aku yang kalian baca”.

Dan bagiku, kamulah segala bentuk
menjadi pengganti dari sajak-sajakku.

  • Cinta Adalah Doa-doa & Pengganti Sajakku semula merupakan puisi dengan judul asli Kamulah Pengganti Sajakku, yang telah diperbaiki dan pertama kali ditulis pada 10 Februari 2016.

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.