Categories
Kontemplasi Naskah Lama

Serpihan Luka yang Tinggal di Masa Lalu

Kegelisahan terus saja menghampiriku sepanjang hari, mengusik pasti dinding hati, tak berhenti meski telah kucoba mengusirnya agar pergi namun semakin kerasa usaha yang kulakukan justru semakin ia mengusik, menusuk masuk dari sela pori-pori. Sakitnya tak tertahankan, kepedihannya tak terpatahkan, segala hal yang kita sebut kekhawatiran. Aku mencoba menepi sekali sekedar untuk berhenti dan bersembunyi dari perih padamnya cahaya dalam hati: Aku serpihan luka yang tinggal di masa lalu.

Menuju ke lorong paling sepi. Aku terus saja berambisi untuk menghindar jauh dari putaran bumi, cintamu yang dulu singgah penuh arti meninggalkan bekas kelam tersendiri dalam hati. Mengoyak sepi badanku seperti keterasingan di negeri sendiri, cintamu luluhkan segala hal yang kupupuk sedemikian rupa dan penyesalan-penyesalan yang terus saja menghantui membawaku pergi jauh. Menelangsa jiwaku dan dalam derap harapku, aku ingin beristirahat sejenak, berhenti dan bersembunyi dari segala gegap gempita bunyi yang dibawamu menuju taman hati.

Persembunyiaanku berhasil kau temukan lagi dan rasa hausmu akan cinta membawaku lari, menyeret segala rasa dan ketakutan. Tubuhku gemetar getir setelah apa yang pernah terjadi tak bisa kuhentikan. Kegelisahan kembali, berhasil menemukanku, memaksaku keluar dari tempat yang kusinggahi. Segala usaha dan upaya telah kulakukan agar waktu berpihak padaku untuk sementara, sedangkan masa telah merangkulku terlebih dulu namun lagi-lagi kenyataan memberikan sebuah jalan yang tak pernah kuketahui. Dengan wajah tersenyum ia berkata, menyampaikan salam dari masa lalu yang sedemikian kelam:

“Ke mana pun kau pergi dan sekuat apapun usaha yang kau lakukan, aku akan selalu datang menjemputmu seperti halusinasi panjang yang terus saja menghantuimu; tidak ada satu tempat pun di dunia ini yang bisa lepas dari jangkauanku. Kau akan terus menjadi abdiku, masa kelam yang terus memelukmu.

Kau tidak akan bisa berbuat apa-apa. Kau tahu kenapa? karena sejatinya kau adalah aku dan aku adalah kamu; kita itu satu dalam cinta yang dulu; kau duniaku dan aku jalanmu; kita adalah bumi dan engkau rotasi. Kita bernaung di tempat yangsama dan melangkah di jalan yang sama pula, oleh karenanya ke mana pun kau pergi dan di mana pun kau bersumbunyi, aku ada di sana. Menemanimu dalam setiap penggal nafasmu yang terengah-engah seperti orang mati”.

Keadaan benar-benar menusukku perlahan, kenyataan yang sebelumnya membenatang jalan panjang dan lurus seakan mengkhianati dan aku dengan wajah tertunduk lemas, bingung, dan tak tahu arah mulai bertanya-tanya:

“Sebenarnya apa yang terjadi sehingga kegelisahan datang bertubi-tubi. Ia menerkam segala ketegaran dan keteguhan, memangsa ganas kebahagiaan. Ia terus saja datang, membawa petaka yang kupendam dalam. Tidak bisakah ia menyerah sejenak saja, duduk diam dan memberiku ketenangan? Biarkan hari-hari berjalan tanpa beban dan sesal, seharusnya kau tidak datang untuk mengingatkan hal apa yang belum kuselesaikan, biarkan saja semuanya tertelan oleh ganas kemarau atau mungkin dibawa hujan kala banjir menghantam”.

Perpisahan dan masa peralihan yang membuatku hilang arah telah menenggelamkan pada kenang. Tubuhku seakan ditelan perih, gemuruh ombak memadamkan api. Sejarah terus saja bergulir berganti dan aku masih tetap sendiri ditemani masa kelam, penyesalan yang sudah-sudah muncul kembali. Di permukaan alam pikir, aku serupa ilmu tanpa pengetahuan.

Perasaan-perasaan yang dulu dibanggakan telah menjadi bumerang tersendiri, dengan beringasnya melukaiku dan menertawakan kepedihan-kepedihan hatiku. Memang seharusnya dulu aku tidak pernah menanggalkan kisah yang begitu tabah dan berarti. Seharusnya ia kurawat dan kujaga agar tak terlukai, namun kini datang penyesalan-penyesalan memberitahu kesalahan-kesalahan.

Langit masih saja biru dan bumi masih saja basah tercium bau. Kegetiran batin menegurku, penuh harap ia mengingatkan banyak hal yang seharusnya dilakukan, mengingatkan bahwa masa lalu adalah hal yang tidak perlu ditunggu-tunggu. Menjeaskan sesungguhnya hidup adalah perilah melangkah maju seperti yang kebanyakan orang lakukan untuk mencapai sebuah tujuan, menebus segala kesalahan, dan menenggelamkan segala perih yang menghalang.

Aku benar-benar tertahan di lumbung kehidupan. Kelamnya sebuah cerita dan pedihnya luka-luka. Aku ingin kembali mengingat dan memetakan ulang pertanyaan-pertanyaan:

“Adakah aku keliru dalam menafsirkan sesuatu? Perihal menempatkan hati dan perasaan. Adakah aku salah dalam mengartikan rasa yang tumbuh dalam dada, mengoyak sepi penuh bara. Tanpa bunyi, mimpi serasa tak juga berhenti. Kenapa dadaku begitu sesak penuh hal yang sukar dimengerti? Menjelaskannya pun aku tak mampu, aku seperti bocah yang baru belajar abjad ABC”.

Angin berdesir menyentuh diri dan aku masih sibuk membebaskan kebahagiaan dari kepungan luka-luka. Kegelisahanku terus saja mengunjungi, halaman rumah tempat suka cita merawat cinta. Aku, sekali lagi berusaha apa yang pernah diperlihatkan kenyataan. Mencoba memahami setiap hal yang terjadi saat ini. Kenyataan terus membenahi diri dalam gelisah yang jatuh dalam hati seperti memungut kepingan-kepingan kisah yang dihempaskan keadaan.

Dari kisah yang dipungutnya, kulihat bulir air mata jatuh membekas menjadi tinta untuk menulis kalimatnya; harapan yang tercecer dalam lembaran-lembaran usang penuh kenang. Hatiku mengetuk permisi, menyampaikan hal yang seharusnya dipahami baik olehku dan seluruh makhluk di muka bumi. Dengan ketabahan yang dimilikinya, dengan cinta dan keteguhannya. Ia menjelaskan semua hal dengan begitu hati-hati:

“Sebenarnya kegelisahn itu adalah dirimu sendiri, selalu ada alasannya mengapa kau merasakan kegelisahan itu. Kegelisahanmu datang bukan tanpa alasan karena sesungguhnya Tuhan yang membawanya padamu dengan sengaja. Dia ingin melihat sampai di mana perjuanganmu, usahamu, dan akankah kau menyerah tanpa pernah bisa merelakan apa-apa. Semua hal yang kau rasakan adalah ujian yang harus kau lewati. Belajarlah dan terus pahami bahwa sesungguh cinta datang dengan caranya sendiri”.

Aku bergumam sendiri setelah mendengar apa yang dijelaskan hati tentang kedudukan nyata sebuah ilusterasi: keadaanku yang terus saja seperti ini. Berandai-andai dan berharap tentang suatu hal yang menurutku mustahil namun masih saja ingin kuutarakan:

“Seandainya aku bisa selapang kenyataan dalam menerima setiap keadaan; kenyataan yang penuh sabar dan keadaan yang teguh dalam pendirian. Mungkin kegelisahan ini tidak akan pernah ada bahkan takkan pernah datang”

Keadaan datang menghampiri kenyataan di sela-sela kesibukannya. Kata-kata yang tampak samar dan tidak kumengerti maknanya keluar sebagai salam sapa dari keadaan yang berkunjung. Kenyataan berhenti dari kesibukannya dan mendengarkan penuh seksama apa yang dikatakan oleh keadaan:

“Kawan dan kekasihku, adakah doa yang kutenun sampai padamu dan kau amini dengan ayat-Nya sebelum melayang terbang ke bawah Arsy Tuhan?”

Kenyataan diam sejenak, tampak ia mengingat-ingat sesuatu kemudian lepas dari lirih suaranya sebuah kata penuh arti:

“Telah kusemogakan semuanya, mungkin saat ini para Malaikat sedang memisahkan beberapa doa sebelum jatuh jawab bersama hujan besok atau lusa”.

Ia berhenti sejenak menghela nafas. Dalam tatapan panjangnya, setiap hal adalah apa yang dissemogakan. Telah tersurat dengan nyata bahwa hidup dan cinta adalah satu kesatuan. Sebelum akhirnya ia kembali pada kesibukannya, dari hela nafasnya keluar kata yang membuat keadaan tersenyum simpul memhahami sedangkan aku yang mendengar pembicaraan itu kalut dalam kebodohan dan ketidaktahuan.

“Tidak perlu kau menunggu waktu bahkan masa sekalipun karena waktu lebih dewasa dan masa lebih bijaksana dari kita berdua, setidaknya himpun semua keragu-raguanmu menjadi kepercayaan sehingga tidak ada kata yang keluar dari mulut bahwa kau selalu mawas diri. Percayalah, Tuhan senantiasa ada dan terus bersama kita meski kita tidak tahu dia di mana. Yang harus diyakini adalah Dia di sini, dalam dada; abadi”.

Lembayung senja membawa angin. Ilalang tampak tegak menyobongkan diri, merasa pengetahuannya lebih banyak dari padi yang senantiasa membungkuk setelah terisi. Matahari semakin meninggi hampir tertelan awan tebal yang selalu ingin mengenyangkan perutnya sebelum memuntuhkan sinar-sinarnya; merembes ke segala penjuru bumi. Di sini aku kalut dalam pertanyaan-pertanyaan, mencoba memikirkan sebuah hikayat yang pernah pernah kupelajari namun lupa kujadikan narasi; menghimpun doa dalam semoga; berharap semesta mengamini dan Tuhan mempertamukan kembali kebahagiaan dalam cinta yang suci.

Mengurung diri dalam ruang sepi nan sunyi, berdamai dengan kesendirian yang menyendiri dan bertanya pada kemungkinan yang tidak pernah mungkin tentang sebuah arti yang luput kupahami. Hanyut dalam waktu-waktu panjang, berteman dengan puisi-puisi dan prosa-prosa; aku berdoa, mencoba mengamini ketidaktahuanku; aku berdoa, meminta penjelasan dari sang pemilik pengetahuan.

Yogyakarta, 03 Januari 2017


Catatan: Tulisan ini telah dimuat di Personal Blog Ahmed Fauzy Hawi dengan judul Hidupku: Distorsi dan Rotasi Alam Raya.

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.