Categories
Puisi

Seandainya Dulu Memang Seperti Itu?

Seandainya kenangan tidak seperih ini, mungkin bahagia mudah diterima. Seandainya cita-cita lebih mudah diraih, mungkin jenuh tak separah ini.

Kita laksana pengetahuan
tanpa dasar dan pengembangan.
Berbicara panjang lebar tentang keberuntungan
namun lupa bagaimana caranya memutus hambatan.

Kita adalah luka, mengejar bahagia
yang jauh dari semoga.
Kita adalah persepsi dan asumsi
kerdil dan pongahnya keinginan.
: Segala kemungkinan yang sukar diwujudkan.


Perjalanan yang kau tempuh dan jarak yang kulipat untuk mengejarmu sebenarnya adalah derap harap utuhnya keinginan. Ia lahir dari semoga-semoga yang tak pernah kau perhitungkan sebelumnya.

Memupuk harapan dan cinta pada lamunan panjang keberuntungan. Aku seringkali bercengkrama dengan luka-luka, tumpahkan air mata ketika doa tak didengar semesta. Masihkah kau ingat, dulu sebelum cinta merengkuh hatiku. Bukankah kau pernah berkata:

“Kedatanganku adalah perhambaan, diutus Tuhan untuk menemanimu berjalan; memutuskan rantai belenggu yang diikatkan setan-setan. Aku akan mengobati semua luka dan merawat ingatanmu tentang bahagia. Jadi sekarang, peluklah aku dengan sukacita dan lupakan segala macam derita. Sebab aku adalah cinta, datang padamu tanpa maksud menambah duka”.

Kupupuk asa yang kau bangun dulu, sebelum akhirnya jatuh menimpaku dua kali dan kali ini jauh lebih sakit dari sebelumnya. Aku ingin berandai-andai namun sadar luka telah membekas dalam, menusuk masuk, mengoyak-ngoyak ketahanan. Rupanya kau hanya singgah tanpa pernah memikirkan cara menetap.

Memang benar luka yang dulu sudah hilang, namun kau lupa bahwa luka yang lain kau torehkan. Aku tak ingin menyalahkan dirimu (setidaknya itu menurut pemahamanku). Sayangnya aku bukanlah orang bijak yang dengan mudahnya mengikhlaskan dan merelakan. Aku masih menjadi manusia dengan kelabilan luar biasa, pun penuh perasaan yang dengan gampangnya menerima pertemuan juga buah manis perjanjian.

Sebenarnya, jika kesempatan masih berpihak padaku. Ada banyak hal yang ingin dibicarakan dan harus dilakukan. Namun apalah daya, saat ini hanya bisa merelakan meski sukar menerima kebahagiaan. Setiap kemungkinan yang pudar, biarkan saja. Sebab keadaan adalah lumrahnya keinginan yang terkadang tidak dimengerti pengetahuan manusia.

Saat ini biarkan aku menegaskan kembali apa yang dirasakan, pahitnya ditinggalkan tanpa sepatah doa pun kau sampaikan. Jadi biarkan aku menyelesaikan apa yang hendak kusampaikan meski tidak bisa kau dengarkan.

Kita memang sama-sama berpetualang perihal cinta. Kita sama-sama membutuhkan persinggahan menuju akhir kehidupan yang sakral, tapi bukan berarti meninggalkan tanpa pernah mengucapkan: “Aku hanyalah seseorang, singgah dan tak ingin menetap. Pun jika harus tinggal, maka siap-siaplah merelakan dan mengikhlaskan sebab cinta tidak selamanya dalam genggaman”.

Seandainya dulu seperti itu, mungkin tidak butuh waktu lama untuk mengikhlaskan dan menerima. Seandainya dulu seperti itu, luka takkan bernanah dan sulit diobati lukanya. Seandainya memang dulu seperti itu? … Tapi apalah daya, kenyataan pahit mau tidak mau harus diterima. Semoga aku akan baik-baik saja dan mampu melanjutkan, biarpun luka terus saja menganga dan sakitnya perih di dada.

Yogyakarta, 21 Juli 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.