Categories
Puisi

Rindu Akan Tetap Bermuara Pada Pertemuan

Rindu selalu tahu kapan pertemuan harus bermuara dan cinta adalah penengah ketika keegoisan mengambil alih ketabahan untuk terus mencerca fakta yang tak kunjung tiba.

Hai, Sayang. Apa kabar kamu hari ini? Kuharap kau baik-baik saja, seperti cinta yang merekah bersama doa-doa. Begitupun dengan rindumu, semoga ia tidak menguliti ketabahan yang tertanam dalam semoga.

Rasa yang jatuh perlahan dari doa-doa dahulu tidak pernah mengingkari perjanjian, ia bertahan meski bahagia selalu sukar digenggam. Di sini, rindu kutahan dengan harapan ketika pertemuan bertandang banyak cerita kita tukar. Tak perlu merasa risau kata-kata tak sampai karena cinta selalu tahu bagaimana mengutarakan.

Pun tak perlu mendesak pertemuan dan ucapan “Aku merindukanmu ataupun butuh kehadiran” sebab segala rasa tertuang tak memerlukan bantuan, ia selalu tahu bagaimana menempatkan; membujuk keadaan dan kenyataan. Semoga kau tetap bertahan dan berjuang meski sulit tak terelakkan.

Bukankah sudah kodrat kita menerima dan melanjutkan, perjalanan yang tak seorang pun tahu di mana pemberhentian? Dari dulu hingga saat ini aku selalu percaya, pertemuan yang bersua bukanlah kebetulan melainkan proses kehidupan untuk saling melengkapi, menerima, mendukung, dan mempertahankan; tidak perlu menang dan tidak perlu merasa takut kehilangan sebab cintaku utuh karena Tuhan.

Apa yang kau khawatirkan, bukankah seharusnya kau mendoakan cintaku utuh bersama damai? Kekhawatiran yang tertanam dalam pikiran dan kerisauanmu bukanlah persoalan, sebab cinta datang atas perintah Tuhan.

Aku hanya ingin menyampaikan beberapa hal untuk kau pertimbangkan: “Sampai bertemu, Sayang. Tidak perlu menghitung waktu yang tak bersama kita, cinta dan rinduku adalah latihan yang tak perlu mengenal batas peralihan. Ia bersemayam, ketika malam bertasbih dan jika ada kesempatan akan menenun bahagia dari doa paling suci yang diajarkan kehidupan. Jadi bersabarlah, sebab pertemuan pasti bermuara pada luasnya lautan: jiwamu samudera kedamaian”.


Rindu adalah bagian perjalanan
cinta dan hubungan jangka panjang.
Ia akan tetap berbibit lalu tumbuh mengakar
meski pertemuan tak disegerakan
karena ia tahu apa dan siapa
yang merawat pohon kehidupan.

Tidak perlulah risau, karena semua itu
hanya membuang-buang waktu dan pikiran.
Mau dipikir seperti apa maupun
meronta sedemikian rupa, rindu takkan
pernah bisa selesai begitu saja.
Ada sebuah tahapan dan proses
untuk kita mengajarkan pada hati
bahwa waktu yang dijanjikan pasti bersua.

Memeluk mesra dan mencium penuh haru
tanpa takut tak lagi bersama.

Yogyakarta, 21 Juli 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.