Read Time:4 Minute, 10 Second

Puisi Persembahan – Puisi ini ditulis pada 22 Maret 2015 dan pernah dibacakan pada Kegiatan Panggung Rakyat di titik Nol Kilometer Yogyakarta saat terjadi penggusuran pedagang asongan. Selamat membaca, semoga bisa bermanfaat.

Monolog:

Kendaraan terus saja berlalu lalang, orang-orang yang sibuk mencari nafkah dan bersusah payah menggenapi kebutuhan sehari-hari. Di Panggung Rakyat ini, kita semua punya satu ambisi; punya satu tujuan; punya satu keyakinan, untuk saling berbagi dan menjalin hubungan rakyat pribumi.

Untuk orang-orang yang datang dari luar kota dan orang-orang yang memang asli dari kota ini, seluruh rakyat yang sedang bermimpi tetaplah bersama sampai acara ini selesai. Sekali lagi, mari kita heningkan sejenak kota dan halaman ini agar ucapan dan pembelaan terdengar seperti sebuah khotbah para priyayi.

Mari kita heningkan sejenak kota dan halaman ini, biarkan udara menyekap senyap helaan nafas kita, biarkan riuh bunyi kendaraan menyerang ketenangan dan membuat ramai segala sudut juga dinding tebal kehidupan yang seakan-akan tidak memihak keadaan.

Orang-orang yang termarjinalkan, berkumpullah kemari, dengarkan segala isi hati dan pahami segala makna sebuah puisi yang kami beri; yang kami sampaikan kepada penjuru bumi; yang kami bacakan bersama kawan sejati, cinta dan harapan masih menjadi janji yang belum juga mengenal pasti. Untuk beberapa waktu ke depan, biarkan halaman ini tetap sunyi, sesunyi alam yang tak lagi bernyanyi.

#Pembacaannya Diiringin Musik (Gitar)

Kawan, di mana letak kebenaran?
Undang-undang yang berkumandang seakan
menjadi bumerang tersendiri
bagi kita orang-orang yang mencari
nafkah dan kebutuhan sehari-hari.

Dasar negara kita Pancasila, senantiasa meneriakkan
kebanggaan penuh pasti dan tak terelakkan.
Sila-sila terurut rapi penuh arti, setiap hal
tersirat di dalamnya hanya sebatas ideologi
tak bisa dimengerti sepenuhnya oleh mereka
yang memakan hati dan hak rakyatnya.

Ah, negeri ini seperti gundukan duri
Negeri apa ini Tuan?
Adakah dari salah satu kalian memberi jawaban?
Ah, negeri ini seperti tumpukan tubuh yang mati
Ini negeri milik siapa Tuan
Adakah ia berpenghuni setan-setan?

Alibi dibuat sebagai pungli
Apakah ini yang dinamakan negeri demokrasi?
Apakah ini yang dinamakan hidup penuh bakti
Setelah merdeka puluhan tahun
masih seperti terjajah di negeri sendiri?

Jika aku boleh bertanya kepada kalian para penguasa
dan wakil-wakil rakyat di negeri ini.
Masih adakah keadilan itu atau memang
keadilan tercipta sebatas ilusi,
Menggerogoti setiap hidup rakyat sendiri?

Ah, lagi-lagi hidup seperti dijajah
Kita seperti pengungsi di negeri sendiri
setelah semua hal yang diberikan oleh kami.
Bakti tiada lagi berarti

Kami kering seperti pasir tak berair
Kami hutan, digerogoti tikus-tikus luar negeri
Investasi dan modal terus masuk tanpa henti
Menjadikan kami orang-orang pinggir tak berarti
Kami tak terhitung sebagai satu kesatuan masyarakat dalam negeri

#Dibaca Bergantian Pada Bait Ini Sampai Bawah

Inikah demokrasi dan keadilan yang banyak dibicarakan?
Hai para penguasa yang duduk manis di belakang meja
Nasib rakyatmu di sini terlunta

Di manakah letak hati yang awalnya memerangi?

Masihkah keadilan tersisa meski
setipis kapas dan seringan tepung padi?
Jika kalian bertanya ini adalah keadilan atau bukan
Kami tentu dan sudah pasti menjawab
Ini adalah bentuk penindasan
Ini adalah perampasan yang beralih-alih kenyamanan

Kenyamanan dan ketenangan, di manakah ia bersembunyi?
Di kolong meja para koruptor
Di mana letak tatanan penuh kedamaian?
Apa dengan penggusuran lahan yang kami huni?
Apa dengan pengklaiman hak tinggal?
Seperti hidup namun mati seribu kali

Mereka berteriak sembari
memohon, lagi-lagi rakyat kecil menjadi korban
penuh siksaan.

Lihatlah para penguasa yang hidup
dengan penuh kehormatan.
Tidakkah kau dengar
Ada tangisan yang mereka tahan
Ada gumpalan derita yang mereka pendam
Ah, negeri ini sungguh membuat kami mati
Menjadi pengungsi dan terlunta-lunta
Negeri apa ini Tuan?
Hanya ada air mata yang tertahan
Hanya ada perih tak terekam
dan luka yang terus terbuka menganga.
Negeri apa ini Tuan?
Hidup seakan mati
Merdeka namun dijajah penguasa sendiri
Ah, negeri apa ini tuan?
Berkembang tapi banyak yang menangis sejadi-jadi
dalam lumpur kotor
kami bertempur dengan orang-orang sendiri.
Negeri ini milik kami atau hanya penguasa?
Negeri siapa ini Tuan?
Kami menjadi bakteri atau menjadi satu dalam bakti?
Hidup ini seperti pengungsi
Mati dan lapar menjadi kebiasaan sehari-hari
Negeri siapa ini Tuan?

Negara yang katanya berdaulat dan memihak kepentingan rakyatnya tak lebih dari organisasi struktural yang memberangus kemaslahatan warganya. Membiarkan gundukan mayat membusuk dan tulang-tulangnya dijadikan pijakan juga pupuk untuk mengenyangkan perut. Dasar negara yang termkatub dalam UUD 45 seakan-akan hanya dijadikan benteng bertahan untuk kaum-kaum cukong dan setelah sampai giliran kami yang berbuat khilaf karena ketidakmampuan pengetahuan; tak mampu menghidupi diri dengan sandang dan pangan, tanpa sedikitpun iba digilis dengan regulasi.

Maka tidak heran, perut-perut babi selalu terisi dan bau wangi yang berhamburan dari jas-jas hitam berkerah emas membatasi antara kami yang di bawah dan mereka yang di atas. Memangku nasib di leher rakyatnya. Jika boleh mengingatkan falsafah lama tentang demokratis: penghidupan organisasi yang diganti nama menjadi Negara itu sebenarnya banyak dilahirkan dari tangan-tangan mungil kami yang saban hari berkerut dan kasar.

Kami hanya ingin berdoa kepada Tuhan, semoga Negeri ini kembali tenang dan damai. Kami tidak merasa terjajah oleh penguasa sendiri dan tersingkirkan dari tanah kami.

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *