Categories
Puisi

Mungkin Kita Mengerti dan 5 Puisi Lainnya

Mungkin Kita Mengerti dan 5 (Lima) Puisi Lainnya merupakan sebuah puisi yang ditulis di beberapa sosial media dan platfom seperti Instagram, Tumblr, dan Medium. Seperti judulnya semoga kita menemukan kebahagiaan dan bisa mengerti jika bukan saat ini mungkin nanti Tuhan memberikan kesempatan. Selamat membaca dan menikmati, semoga bermanfaat.

Mungkin Kita Mengerti

Mungkin tak mudah bagimu mengatakan
hidup adalah tentang apa yang kamu beri
dan apa yang mereka terima.

Kadang kita bahkan lebih awam dari mereka.
Perihal retorika dan teori-teori kita jagonya
namun perihal mengabdi dan memahami, kita terbelakang.

Orang-orang yang sudah bergelut sepanjang hari
dengan matahari dan perahan keringat
akan jauh lebih bijak dan mengerti
bahwa sebenarnya hidup adalah
tentang mengajar dan belajar.

Tentang sebuah pengabdian dan membangun diri.
Pengetahuan luas dan ilmu wawas diri.
Segalanya, semoga menjadi baik untuk kita pahami
Mengerti apa yang terjadi dan dilakukan, nanti.

Yogyakarta, 07 September 2019

Di Dalamnya Ada Kita

Namamu yang selalu menyebutkan
ikrar yang tak bisa kuungkapkan dalam
kalimat-kalimat sederhana
adalah bukti dan tanda yang
harusnya bisa kau pertanyakan?!

Seharusnya memang seperti itu
adanya, segala rasa yang tertuang. Biarkan
membakar perih pedih dada
agar tak ada lagi kata penyesalan
untuk disalahkan.

Kekhilafan yang tak disadari
oleh masing-masing keadaan adalah satu
penyebutan yang tak perlu difaktakan;
Mengenai ketidaktahuan dan ketidakpastian
Untukmu dan segala perasaan, berdamailah
dengan keegoisan.

Selebihnya tenang sebuah urusan
yang tak dilibatkan. Anggap saja
seperti kebiasaan yang tak mampu
membuatmu berpaling dariku.
Aksara jiwamu, doa-doa
yang diajarkan semesta. Serupa nahkoda
suka cita; harap ingin bersama
menuju satu gerbang yang di dalamnya
ada kita sebagai keluarga.

Yogyakarta, 08 September 2019

Nanar Luka

Luka yang kau tinggalkan
merajam dada, meradang segala semoga.

Dari kisah silam
bahagia pernah kau janjikan
sebagai bentuk ikatan
dan pengabdian.

Sayangnya, semua yang pernah
kau katakan tak lebih dari dusta.
Hancurkan segala rasa
runtuhkan dinding jiwa.

Jika ingatanku tak lupa
Kau bilang, ihwal sah tidaknya
adalah ketetapan ijab kabul.
Ikrar bersama yang tak perlu dikhawatirkan

Namun kenyataannya
kau biarkan luka nanar begitu saja.
Kau hantam tubuhku dengan nestapa
sebelum akhirnya kau tancapkan belati
membunuhku perlahan.

Benar … kau tak lebih dari
setan-setan, merayu lalu menyesatkan.
Seharusnya tak perlu kau janjikan
manis aroma kehidupan
jika akhirnya kau bunuh cintaku
dan kau kafirkan rinduku.

Setelah kutanyakan dan kumintai penjelasan
kau hanya bilang:

“Cinta adalah penyesalan-penyesalan
dan bersamaku tak lebih dari perebutan tahta”.

Ternyata sepedih ini luka yang kau berikan
Janjimu tak lain dan tak bukan,
hanya ilusi yang kau tawarkan.

Ternyata kau memang pantas di neraka
dilumat habis api dan dituangkan
dalam bejana penuh bara.

Yogyakarta, 09 September 2019

Aku Tidak Perlu Menulis Puisi

Aku tidak perlu menuliskan sebuah puisi untukmu.
Bukankah ada satu hal pasti
yang tak bisa dibaca dan ditebak artinya?
Tentangmu yang berujar pasti
Sebuah harap masa depan
yang berderap doa-doa, namamu.

Aku tidak perlu menerjemahkan seperti apa puisi bagimu
Cukupkan saja namamu menjadi bukti
Setiap bait aksara adalah aroma
kehidupan; menemaniku berjalan
menuju satu titik di mana ada kita.

Di suatu waktu, di masa depan
akan kau temukan aku dalam dirimu.
Berbicara namun sukar didengar:
Aku abadi di sana
Hatimu, tempatku menambatkan perasaan
dan memulangkan bahagia
yang dijanjikan kehidupan dan semesta.

Aku tidak perlu menuliskan puisi
atau kamu tidak perlu memintaku menerjemahkan sebuah arti.
Puisi itu kamu, lahir dari sepenggal doa abadi.
Namamu, berjejer rapi
merapalkan setiap isi dan makna diri.

Aku tidak perlu menulis sebuah puisi
karena seluruhnya kamu, bermajas ria tanpa henti.

Yogyakarta, 09 September 2019 | 16.56 WIB

Biarkan Rasaku Utuh

Mengenai sebuah persepsi
dan cara memahami, bukankah
kita sama-sama memiliki?
Lalu untuk apa aku harus kembali
mengingatkan bahwa apa yang kau miliki
adalah sesuatu yang bersemayam dalam diri?

Biarkan saja cintamu tumbuh
mengenai urusan yang jauh
tidak perlu kau berdebat dan bersikukuh.
Cinta selalu tahu ke mana ia berlabuh
dan siapa yang akan ia rengkuh.

Biarkan saja rasaku utuh, bukankah
seluruhnya adalah apa yang kau bilang tangguh?
Cintamu yang tak mudah rapuh
dan rinduku, jarak yang tak mudah ditempuh.

Yogyakarta, 11 September 2019

Mengenang Pertemuan

Waktu itu senja tampak malu-malu
dan kita yang tersipu. Merah pipimu
adalah aroma hidup
yang segan dan penuh canggung;
Pertemuan kita, deretan kata dan bait-bait luka
ditinggalkan kenang. Meradangkan bahagia
di masing-masing kehidupan.

Ceritamu waktu itu, mengisyaratkan ketidaktahuan.
Seandainya kau mampu menjermahkan,
sebuah perjalanan sebagai pengalaman
dan luka yang diterima tak lebih
dari perkara mendewasakan keegoisan
dan melapangkan segala penyesalan.

Selebihnya, perihal bahagia
yang kau lupakan meski sebentar
adalah pemahaman yang dijadikan alasan;
menyalahkan banyak hal;
kafir dan tak berperasaan
: Bersamanya, tak pernah kau temukan kata bahagia

Semusim berlalu …
Kau dipertemukan denganku
yang cukup gemar memanipulasi kenyataan
dan lihai menjadikan keadaan sebagai alasan.

Kau bertanya dan menimpali setiap cerita
Mengencani kata-kata dengan
rasa tumpang tindihnya semoga.

Pada pertemuan pertama yang ditentukan
Tak ada sapa dan tutur kata
hanya senyum yang tak mudah dipahami.
Usiamu yang belia dan pikiranmu yang tak dewasa
adalah harum bunga dibatas layu pancaroba.

Pertemananmu denganku, kenang sebuah harap
Keinginan melupakan dan menemukan bahagia

Yogyakarta, 11 September 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.