Categories
Puisi

Menyimpan Dendam, Dari Apa dan Siapa

Menyimpan Dendam, Dari Apa dan Siapa sebenarnya tak lebih dari sebuah judul saja karena di dalam tulisan ini menceritakan kehidupan dan segala hal yang bisa dijadikan refleksi sebuah hubungan.

Menyimpan Dendam

Aku sedang menyimpan dendam asmara
terhadap luka yang kau torehkan.

Waktu itu, aku mampu merengkuh segala bahagia
namun setelah kau iris hati tanpa rasa iba,
cintamu tak lebih dari ilusi belaka
hadir ketika pekat malamku
dan pergi di pagi buta yang resahkan duniaku.

Kita, Masa Lalu dan Masa Depan

Pertemuan kita terlahir dari masa lalu dan masa depan
Kau dengan sejuta mimpi-mimpi yang jauh di depan
dan aku yang masih mencoba membersihkan segala
karat dinding hati.

Pertemuan pertama kita waktu itu
Gambaran kecil sebuah luka dan rencana bahagia
Aku dengan segala ekspektasi untuk membebaskan diri
sedangkan engkau yang lahir
dari resolusi dan rencana kemenangan.

Kita adalah dua hal yang sama-sama memiliki kekuatan
Aku yang belajar berdiri dan berlari
menyembuhkan diri dari silamnya sebuah perih.
Dan kamu, cita-cita luhur penuh ambisi;
Kisah panjang tentang mewujudkan mimpi.

Pertemuan kita dan masing-masing pribadi
adalah kisah nyata melupakan kenang;
Merumuskan bahagia atas pasal-pasal memperbaiki diri
Aku dengan masa lalunya dan
kamu dengan masa depan cerah gemilang.

Aku Tidak Lebih dari Apa dan Siapa

/1/

Jika mencintaiku bagimu begitu rumit
lalu bagaimana kau akan mengenalku, bukankah
akan terasa begitu berat dan sulit?

Seringkali kau pertanyakan kebenaran
dan tak jemu-jemunya kau tasbihkan banyak persoalan
Tentang diriku yang sukar kau temui
dan jiwaku yang tak mudah kau pahami.

Aku tak mau mengingkari bahwa kepercayaan
lahir atas keterbukaan, percakapan
dan perbincangan kecil yang kadang lupa kita laksanakan.
Pun aku tak mau menyalahkan perbedaan
yang melekat pada masing-masing diri. Bukankah
sudah sewajarnya, “beda orang, beda persepsi?”
seperti pepatah lama yang entah datang dari mana:
“Beda kepala maka beda isinya”.

Jauh sebelum kau memilihku
Pernah kujelaskan
banyak kurang dalam diriku
dan muslihat pikiran bejatku.
Namun, kau hanya berkata: “Cintaku menerima
segala kurangmu, apa adanya kamu. Biarkan
buruk menjadi baik perlahan”
.

Lantas ketika berjalan cukup jauh
dan kau temukan licik dan picik akalku
menerima tak lagi ada padamu. Kau berkata dengan tenang
“Ternyata, kau setan-setan yang menggerogoti tabahku
dan tak lebih bejat dari Ifrit yang murtad kepada Tuhan”
.

/2/

Derap doamu begitu kencang tak mampu kukejar
Mengamininya saja ku tak sempat apalagi
membaca ayat-ayatnya.

Kau tahu sendiri bukan? Banyak kurang dalam hidupku
dan banyak kesalahan masa laluku.
Perihal masa depan adalah ihwal yang begitu
sukar kuperhitungkan. Sedangkan masa kini
tak lebih dari permainan-permainan.

Hal itu pernah kusebutkan padamu
namun sebaliknya kau berkata ringan:
“Cintaku cukup tangguh dan hatiku tabah
yang tak mudah rapuh”
.

Pernah kubilang jauh-jauh hari padamu
“Aku adalah fukara yang bicara pada awam
tentang bagaimana alim dikafirkan
dan nabi-nabi dibunuh dengan keji.
Aku tak lebih durja dari Azazil, menipu manusia
tanpa iba”
.

Kau masih ingat, bukan? kau timpali ucapanku begini:
“Kalau begitu, aku adalah Nawang Wulan
dalam kisah Jaka Tarub. Merelakan kahyangan
dan beralih ke pantai selatan; kerajaan iblis
dan menjadi ratu di sana mendampingimu sebagai raja”
.

Nyatanya apa, setelah beberapa musim terlewati
kau salahkan ketidakpercayaan
dan kau sudutkan aku dengan kebenaran.
Seakan-akan kau memenuhi firman Tuhan untuk berwahyu.
Penuh niscaya dan kun fayakun.
“Kejujuran adalah sumber kekuatan dan kebohongan
meski sekali akan terus diulang-ulang, di kemudian hari.
Sebaiknya kau tak perlu membiasakan diri
karena akan sangat menyakitkan ketika aku tahu sendiri”
.

/3/

Kepercayaan dan keculasanku jangan kau sama ratakan
manusia tidak ada yang adil apalagi benar
kedudukannya. Kau seharusnya paham dan mengerti
manusia penuh tipu dan daya; bermain kata-kata
untuk kepentingannya. Singaktnya begini:
“Manusia itu tidak ada yang jujur,
percaya setan aku jika kau katakan
bahwa kejujuran bisa dinobatkan dan disematkan dalam diri”
.

Bukannya aku tak mau mempercayainya, hanya saja
sebaik-baik manusia hatinya tetap busuk juga.
Ada bau amis dan suka nyinyir.
Tanpa sadar kadang mencemooh Tuhan namun ketika
luka-luka menggerayangi tubuhnya
ia dengan gampangnya murtad dan berkata:
“Tuhan tidak adil, seharusnya kebaikan datang padaku.
Bukan ini yang aku mau tapi itu dan banyak lainnya”
.

Kau tahu, kisah masa silam tentang perjuangan?
Ibrahim yang dikafirkan kaumnya
Musa yang diburu tentara Fir’aun
dan Muhammad yang dimusuhi pamannya.
Nabi-nabi dan para sahabat saja masih dipersalahkan
lantas kau menuntut kepercayaan yang luas dariku
“Aku manusia biasa, tak cukup tangguh dan tak juga pintar.
Kepicikan melekat dalam diriku dan kebohongan melingkari
kebenaran jiwaku”
.

/4/

Jika kau masih mempertanyakan banyak hal
ada baiknya kau selami samudera dalam hatiku
yang penuh ombak badai dan terumbu karang.
Untuk berjaga-jaga, jangan lupa
membawa selamat keinginanmu.
Takutnya, kau tak cukup tangguh
membendung gelombang dadaku
dan tak mampu berenang di batas pulauku.

Bukan aku meremehkan keberanianmu
tapi sangat disayangkan jika kau tenggelam
sebelum sampai dan akhirnya kau menyesalinya.

Bukankah lebih baik begitu bukan, atau kau biarkan saja
segalanya berjalan tanpa harus dipermasalahkan.
Dengan begitu kau tak termakan buas lautan
yang membenturkan hatimu pada sakit hati.

  • Ketiga Puisi ini ditulis pada 15 September 2019 di Yogyakarta. Puisi Pertama berjudul: Menyimpan Dendam, Kedua adalah Kita, Masa Lalu dan Masa Depan dan Terakhir yaitu, Aku Tak Lebih Dari Apa dan Siapa.

Semoga tulisan dengan judul Menyimpan Dendam, Dari Apa dan Siapa ini bisa memberikan manfaat dan jadi bahan refleksi untuk kita semua.

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

2 replies on “Menyimpan Dendam, Dari Apa dan Siapa”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.