Categories
Naskah Lama Puisi

Menyerah Bukanlah Alasan dan Puisi Lainnya

Menyerah Bukanlah Alasan dan Puisi Lainnya sama seperti kumpulan puisi sebelumnya yang ditulis pada tahun 2016. Semoga kumpulan puisi ini bisa memberikan manfaat dan bisa membantu Anda dalam membuat karya puisi.

Menyerah Bukanlah Alasan

Secarik lembar kusam tertinggal dan dilupakan
Kalimatnya tumbang dan isinya terbuang
Terisak pilu penuh harapan
Dalam doanya:
“Aku, adalah waktu
yang suka menantang,
jarak sebatas bentangan-bentangan.
Menyerah bukanlah alasan;
cinta selalu tahu caranya berjuang”.

Biarkan saja dosa merintih
Pengampunan selalu tangguh dan lusuh keinginan
adalah doa yang selalu hidup
meski dibayang-bayangi kegagalan.

  • Menyerah Bukanlah Alasan sebelumnya adalah puisi dengan judul Dibayangi Kegagalan yang ditulis pada 10 Februari 2016 dan sudah dirombak isinya.

Hal Yang Menyebut Namamu

/1/

Qou vadis?
Berjalan ke depan dan tidak pernah lupa
akan apa yang pernah terjadi di belakang.

Luz milagros veron
Di ujung sana ada secercah cahaya
dan keajaiban membawa pertemuan-pertemuan
juga cerita dari masa lampau.

Ada yang lupa kupertanyakan,
mengenai diriku dan kedudukan puisiku.
Sepertinya aku butuh banyak waktu untuk memikirkan pertemuan
sedangkan rindu, biarkan saja berbunga
siapa tahu akan mengajarkan dewasa dan ketabahan.

/2/

“Aku mengitari bumi dengan rotasinya
dan mengalami distorsi dari busuknya dunia”.

Di ujung busur panahku
telah kutanamkan satu keyakinan
yang tidak pernah dipertanyakan orang.
Namun kau jangan mempertanyakan
bagaimana kehebatanku dalam membidik sasaran.

Aku bukanlah pemanah yang handal,
aku hanyalah bagian kecil kata
yang terus saja memujamu.
Dan aku tahu, hatimu harus tertancap cinta
dari serangkaian doa-doa yang kuminta
pada Tuhan juga alam raya.

Satu hal yang perlu ditegaskan dan disepakati bersama
Aku bukanlah pengelana dan petualang
Aku hanyalah sebagian kata-kata
mencari jalan menuju titik
di mana hatimu bisa kucapai.

/3/

Aku segala hal, menyebutmu
dalam doa yang terus saja berikhtiar.
Lalu bagaimana denganmu?
Adakah satu kesaksian mengenai cinta juga perasaan
menyentuh dadamu dan menggetarkan rasamu?
Jika ada, biarkan aku kembali pulang
memelukmu dalam damai
sebelum akhirnya memutuskan
berjuang atau menyerah karena keadaan.

Sering kali kupinjam namamu
Tidak pernah lupa dan tidak pernah alpa
Sebagian dari banyak keinginan kusisihkan
Menjemputmu dari tabir-tabir penghalang
Dogma dan ajaran adalah acuan
Tuhanlah saksi dari segala perasaan

Dipeluknya semoga ketika Tuhan bersabda:
“Jodohmu adalah dia, yang tenang
dan membawamu dalam islam”.

Yogyakarta, 10 Februari 2016

Didekap Kalut, Tubuhmu

Didekap kalut serupa kematian
mempertanyakan kehidupan. Aku, berdiri mematung
dengan segala bentuk kecenderungan.
Serupa hujan, memanipulasi
air mata perempuan terluka.

Senyummu, hal yang tak perlu diterjemahkan
Dalam guratan-guratan kata menyebut semesta
Tidak perlu bertanya kenapa,
sebab ia adalah besar-kecilnya keadaan.
Pahit yang memekik di antara kenyataan

Didekap kalut tubuhmu
sebelum akhirnya pagi menyapa
setengah umur dewasa malam.

Ah, ada kegelisahan rupanya
bergembira membentuk kepolosan
penuh keteduhan yang menyesatkan.

/2/

Ketika …
Serupa saat senyum merekah dari wajahmu
Kepada …
Bahagia di tenunan tawamu
menjadi bingkai indah lembar kisahmu.

Aku, sebagian hal dari namamu
Sebuah dongeng diceritakan waktu
Dan aku, tawa-tawa bergurat seri bahagia
tak pernah lepas dari wajahmu.

Kepada bunyi bergeming
Gemercik air dalam angin
meminta tenang pada kenang.
Arus berlomba-lomba mencari
ujung dari dunia gersang.

Jauh sebelum aku bertanya
mengenai deras aliran nadimu.
Sendu desir nafasmu memberitahu:
Tersimpan sejuta belenggu
dalam setiap harapmu.

  • Didekap Kalut, Tubuhmu terdiri dari dua puisi dengan judul Didekap Kalut, Tubuhmu & Dan Aku ditulis pada 21 Maret 2016.

Melayang Tanya

Berdenting … !!!
Usia telah lanjut, di mana
masa remaja sebentar lagi terenggut.

Aku tidak akan menghitungnya
apalagi mengeja seperti apa realita.
Biarkan saja hidup terus bermuara
pada kisah yang katanya bahagia.

Saat ini lamunanku melayang
“Bertahan di angka berapakah usia?”
Aku tidak bisa mereka-reka,
pengetahuanku luput dari fakta.

Sudah usia berapakah waktu itu
dan sudah sebijaksana siapa keadaan?

Satu, jawaban yang sampai
kapanpun tidak akan pernah
bisa dijelaskan. Dua, usia tidak pernah
memberitahuku di waktu yang ke berapa
ia akan meninggalkanku.

Pertanyaan kembali meninggi
menuju angkasa melintasi awan tak berbumi.
Aku dan segala usia yang ada,
mengiringi harap jawaban pasti.
Kuraih dan kugenggam sampai mati
segala hal yang tidak pernah pasti.

Yogyakarta, 02 April 2016

Rinduku Candu

Seakan rasaku jatuh
pada dilema, antara bertahan dan melaju.
Seperti sebuah kapal,
berlayar di tengah lautan.
Seperti itulah aku, berada
di antara selamat dan tenggelam
ke dasar laut paling dalam.

Pada tubuh kalimat
Terucap lirih dari bibirmu
Ada kata-kata yang tidak sempat
aku terjemahkan dengan bahasa tubuh
dan pribahasa-pribahasa kalbu.

Adalah ketika kau beranjak
pergi dan berpamitan
meninggalkan kenang dalam pelukan.

Detak jantungku berkata:
“Mungkin setelah ini rindu kembali
meminta temu untuk yang ke sekiankalinya
setelah sebelumnya ia menjadi candu bagiku”.

Benar apa kata para moyang
Rindu selalu tabah dan juga terburu-buru
berpamitan tanpa sempat berucap:

“Aku cinta kamu dan rinduku
milikmu, utuh dan sesempurna waktu”.

Benar apa kata para moyang
Rindu selalu saja kamu
ketika candu tak lagi mengenal temu:

“Pulang adalah salah satu hal
paling diinginkan setiap orang,
yang berangkat dari keterbatasan.

Meninggalkan segala gemuruh gusar
padang sahara yang selalu kemarau
dan bertemu dengan kekasih
adalah musim penghujan.
Memeluk gigil dengan kecupan-kecupan”.

Yogyakarta, 18 April 2016

Masih Menunggu

Aku memenjarakan diri
dalam bayang-bayang waktu.
Berlarilah anganku jauh
pada sebuah hati,
terpusat dan memusat segala rindu.

Telah sampai perjalanan ini
yang rupa-rupanya usia mulai jemu.
Adakah puisi yang tidak dimengerti?

“Ada! yaitu, kamu”

Menempatkan sebuah hati; menepi
di rongga dada yang sepi, berlalu.
Adakah puisi yang tidak mudah dipahami?

“Ada! yaitu, kamu”

Mengetuk permisi, batin
dan segala intuisi saling mengajukan
tanya memadu sapa

“Adakah yang kau tunggu selain aku?”

Suara lirih dari balik hati
“Berapa lama lagi kau akan menunggu,
tetap diam dan tak melangkah maju
sudah terlalu banyak waktu berlalu?”

Semakin lirih dan pedih
suaranya kembali, berucap penuh:

“Berapa lama lagi kau akan menunggu,
sampai Tuhan berkata inilah waktumu?”

Yogyakarta, 23 Desember 2016

Masyhur

/1/

Ada doa-doa yang lupa
Ada kata-kata yang sirna
Adalah semoga yang tidak pernah diamini Tuannya
Adalah bahasa yang tidak dimengerti penuturnya

Usaha, rencana, dan keputusan;
Maksud dan tujuannya berdasar pada ayat-Nya
Siapa yang lebih berkuasa?
Allah adalah Dzat yang berhak
pada seluruh penetapan.

Manusia makhluk yang lemah,
sedang Tuhan tidak, Ia berjaya.
Manusia makhluk yang sering lupa
Sedang Tuhan masyhur di segala penjuru dan ingatan-ingatan
Kecuali bagi mereka yang mengingkari hidupnya

Kuasa di atas kuasa
Maha atas segala maha
Hanya Allah yang Esa dan bijaksana

/2/

Manusia menyimpan rahasia
Tuhan pun juga. Manusia berencana
dan Tuhan pun juga, bahkan jauh-jauh
hari sebelum semuanya tercipta.

Tuhan menempatkan sebuah pena
penuh tetesan tinta
di lembaran kosong tanpa kata
sekedar untuk kita isi hal berguna.

Bercerita boleh-boleh saja
tapi jangan lupa siapa Tuannya.
Berlomba-lombalah atas kebaikan
tapi ingatlah siapa jurinya.

Apa yang keluar adalah apa
yang masuk. Sebenarnya,
semuanya telah diatur-Nya.
Akan selalu ada rahasia di balik rahasia

Yogyakarta, 24 Desember 2016

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.