Read Time:1 Minute, 42 Second

Menyelamatkan Diri – Kita adalah kegagalan yang tak pernah bisa menemukan kesempatan kedua, maka biarkan saja Tuhan mengingatkanmu kembali tentang bagaimana dulu kau berjuang. Meyakinkanku untuk membuka pintu rumah dan membiarkanmu masuk. Menempati ruang hati sebelum akhirnya menyatu bersama.

Carate se ampon lebet nikah bukte, sanontona odhi’ sakejjeben mata. Manussa coma nyambi bakte, se ekaolle bekto odhi’ ngastete.*

Jika kelak kenang masih tak bisa kau lupakan. Aku hanya ingin berpesan padamu yang pernah menjadi bagian dan tujuan: lantunkan kembali segala doa yang belum sempat kau ucapkan, siapa tahu Tuhan mengabulkannya melalui perantara lain.

Jika kelak masa lampau lebih sukar kau ceritakan, lebih berat untuk kau pikul dan kau jadikan pelajaran. Maka biarkan lakon-lakon fiksi yang sering kau ceritakan mengambil alih peran hidupmu sementara. Bukan berarti menghindar, hanya menepi sebentar sebelum akhirnya kau temukan keputusan dan ketabahan.

Jika kelak luka yang dengan mati-matian ingin disembuhkan menganga lagi, setidaknya biarkan suci air mata membasuh dan membersihkannya. Mungkin dengan begitu kau kan temukan lagi yang nama harapan. Jatuh dari rasi-rasi bintang, membawa mimpi indah di penghujung jalan yang sempat kau semogakan.

Jika kelak, kau merasa tidak mampu dan terpuruk dalam. Maka biarkan kehangatan kasih Ibu mengajarkan bahwa ketulusan tidak untuk diperjualbelikan apalagi diperdebatkan dengan banyak asumsi dan pola pikir dangkal pengetahuan yang sifatnya ilmiah.

Tuhan selalu punya cara dan mengetahui apa yang dibutuhkan; dirisaukan hati dan dipikirkan manusia. Percayalah, tidak ada kata paling ampuh dari berserah diri, melapangkan dada dengan terus mengabdi dan mengevaluasi segala kejadian yang pernah kau sebutkan.

Buang jauh-jauh segala mitos simsalabim dan pertahankan luhur kekuatan semesta yang lahir dari wahyu Tuhan: Kun Fayakun. Terakhir aku ingin mengucapkan, selamat memetik berkah dan nikmat pelajaran masa lampau yang banyak dilupakan sebab perkembangan zaman. Jika lisan bisa menjadi bumerang, ia juga bisa menjadi senjata untuk merontokkan segala keresahan. Karenanya menyelamatkan diri adalah sebuah kewajiban dan tanggung jawab sebagai manusia adalah berprilaku baik pada sesama.

* Terjemahan Bahasa Madura

Cerita yang sudah lewat adalah bukti, sesungguhnya hidup sekejap mata. Manusia hanya membawa bakti, yang diperoleh ketika hidup dengan hati-hati.

Yogyakarta 27 Februari 2020

1 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *