Read Time:9 Minute, 34 Second

Menjadi Manusia Seutuhnya – Kehidupan tak ubahnya seperti bejana penuh lumpur yang kerapkali mengundang kecemasan dan kekhawatiran. Seakan-akan kita sebagai seseorang yang memiliki keinginan tinggi dan cita-cita luar biasa dituntut untuk memenuhi segala ekspektasi; menurunkan tingkat kewarasan dan meninggikan keinginan untuk menang sendiri.

Egoisme yang tumbuh dan kepercayaan yang rapuh menjadikan kita sebagai sosok lumpuh; tak memiliki pemikiran utuh juga dengan tanpa pertimbangan mengatakan hidup tiada artinya. Keluh kesah yang didengungkan menjadi sebuah pertanda, mensinyalir setiap hal yang semula utuh dan seketika menjadikannya runtuh.

Kita yang pada dasarnya merupakan makhluk dengan tingkat kecerdasan luar biasa, dengan tiba-tiba dan tanpa aba-aba menjadi sosok penuh ketidakpercayaan, ragu-ragu, dan terkadang salah memilih bahkan parahnya memikirkan untuk menenggelamkan diri dalam kubangan lumpur; mengentaskan kepandaian dan pengetahuan diri; menjadikan bongakahan dalam tanah yang kotor atau tanpa sadar menyatakan bahwa dunia ini tak lebih dari neraka.

Primitivisme seharusnya menjadi salah satu nilai tukar lebih, sebab primitivisme adalah sifat bersahaja, spontanitas, dibekali kejujuran, dan penuh dengan kebaikan. Inilah primitivisme yang sesungguhnya dimiliki oleh setiap manusia sebelum ada pernyataan menyesatkan tentang perubahan stigma yang entah ada sejak tahun apa dan semenjak sejarahnya siapa.

Manusia adalah unsur terbaik dari ciptaan Tuhan meski dalam perjalanannya mengalami banyak perubahan yang disebabkan oleh pemikiran kreatifnya. Jika kita mau mempelajari lebih jauh tentang kemanfaatan dunia ini, maka kita akan lebih berpikir lagi dan mengendepankan esensial sebuah perasaan, yaitu hati; unsur paling peka dalam tubuh dan jiwa manusia.

Tuhan selalu saja memberikan pencerahan lebih dan menentukan jalan terbaik untuk setiap hamba-Nya, hanya terkadang pemikiran kolot kita sebagai manusia dipenuhi stigma-stigma dan perkembangan zaman seakan-akan mengendapkan kecerahan berpikir. Tidak banyak dari kita yang condong pada ekspektasi luar biasa orang lain; mengambil sudut pandangnya dan menjadikannya sebagai sebuah kebenaran. Seharusnya kita lebih dalam memahami diri sendiri dan fungsi dunia ini.

Setiap manusia dalam dirinya memiliki Bodhi-hridaya yang dalam ajaran Buddha dikenal sebagai “Inti Pencerahan Abadi”, jika dalam Islam Ar-Rahman dan Ar-Rahim yang dikaruniakan dari sifat Allah Swt. Sedangkan dalam ajaran Nasrani (Kristen) biasanya dikenal dengan cinta Kristus maupun dari kekuatan kasih Roh Kudus.

Pemikiran kolot yang dipelihara menjadikan iman dan esksistensi Tuhan hilang, seakan-akan kita sedang menggembala diri sendiri menuju padang pasir. Ingatan kita seperti dibawa kelautan penuh badai; ada juga yang sebagian dari kita menyesatkan diri dengan menuhankan hal-hal yang tampak oleh mata.

Jika kita mengambil pelajaran dari yang pernah dibicarakan oleh Nagajurna maka kita akan menemukan Bodhi-hridaya atau ada yang menyebutnya Bodhi-Citta — sebuah Inti Pencerahan Abadi yang tertanam dan bersemedi dalam ritus-ritus jiwa manusia. Di sana kita akan menemukan ketenangan, kepercayaan, dan kekuatan:

“Orang yang mengerti sifat dari Bodhi-hridaya melihat segalanya dengan hati yang mencinta; karena cinta adalah esensi dari Bodhi-hridaya”. 

Nagajurna dengan jelas mengatakan dan mengingatkan kita — meski ini diambil dari ajaran Buddha bukan berarti tidak memiliki manfaat, sebab setiap kepercayaan yang dianut manusia sejatinya memiliki satu tujuan yaitu menumbuhkan benih-benih cinta, menguatkan tali hubungan, dan menyelamatkan setiap orang dari kesengsaraan — bahwa dalam diri manusia ada satu kekuatan yang takkan bisa rapuh dan runtuh oleh apapun, hanya saja terkadang dilupakan dan disingkirkan dengan paksa oleh ego juga pemikiran sendiri.

Hilangnya Inti Pencerahan Abadi dalam diri manusia ini bisa disebabkan oleh banyaknya pemikiran-pemikiran yang dititikberatkan pada kehidupan sehingga tujuan diciptakannya manusia dan dunia ini menjadi salah satu hal yang dilupakan. Ia  tenggelam dalam angan-angan masa depan dan kecemasan masa lalu yang tak kunjung usai, akhirnya menjadikan kita sebagai pribadi yang penuh ketakutan, keraguan kemudian runtuh ditelan pemikirannya sendiri.

Apa yang Kita Percaya Selama Ini?

Dalam diri manusia sesungguhnya ada kecenderungan dan pilihan untuk mempercayai sesuatu yang dilihatnya baik. Hidup adalah roda berputar, mengelilingi setiap sisi kebaikan manusia dan melintasi beberapa keburukan yang tidak disadari. Hidup sendiri laksana upaya manusia dalam mempercayai sesuatu, yang membuatnya merasa aman dan nyaman; tidak ada kecemasan dan tidak ada kesengsaraan di dalamnya.

Dari Aisyah R.A, ia berkata: Akal itu ada sepuluh bagian. Lima di antaranya tampak dan lima lainnya tidak tampak. Adapun bagian-bagian akal yang tampak itu ialah: (1) Diam, (2) santun, (3) rendah hati, (4) menyuruh kepada kebajikan dan mencegah dari kemungkaran, (5) beramal saleh. 

Bagian-bagian akal yang tidak tampak adalah: (1) tafakkur/berpikir, (2) ibrah/mengambil pelajaran dari sesuatu kejadian, (3) merasa berat dengan dosa-dosa, (4) nerasa takut kepada Allah Talla, dan (5) merasa dirinya hina dina.

Riwayat yang disampaikan oleh Aisyah R.A. ini seharusnya menjadi pegangan dan pengetahuan untuk bertindak. Memahami segala hal yang akan dilakukan maupun memberikan pertimbangan-pertimbangan untuk melakukan sesuatu. Sehingga bisa terhindar dari kesalahan-kesalahan yang bertentangan dengan anjuran Tuhan dan kodrat manusia dalam menunaikan kewajibannya di muka bumi.

Tuhan memberikan karunia terbaik dalam diri manusia, yaitu akal untuk berpikir dan hati untuk merasakan. Tapi yang harus disadari, akal selalu mendahulukan hasrat sedangkan hati adalah salah satu unsur yang menjadikan manusia memiliki pertimbangan-pertimbangan. Meski setelahnya akan timbul pertanyaan, lebih dulu mana antara akal dan hati dalam memutuskan?

Jika kita kembali pada telaah diciptakannya manusia, pertanyaan ini tidak akan muncul karena pertanyaan seperti ini sebenarnya hanyalah jebakan yang disampaikan oleh pemikiran picik seseorang dengan keyakinan yang setengah-setengah — saya tidak ingin menjustifikasi sebagai kesalahan dan ingin menyinggung kepercayaan seseorang, di sini hanya ingin memberikan pertimbangan dari sudut pandang yang diperoleh selama belajar tentang bagaimana Islam menjadi penerang bagi penganutnya. Boleh percaya atau tidak, karena saya juga menyadari keterbatasan keilmuan yang ada dalam diri saya dan silakan memberikan pengertian jika memiliki ketidakcocokan dengan tulisan ini.

Kodrat manusia sebagai hamba Tuhan sekaligus anak cucu Adam sebenarnya telah dijabarkan dalam firman Allah Swt (QS. Al Isra: 70) yang berbunyi:
وَلَقَدْ كَرَّمْنَا بَنِي آدَمَ وَحَمَلْنَاهُمْ فِي الْبَرِّ وَالْبَحْرِ وَرَزَقْنَاهُمْ مِنَ الطَّيِّبَاتِ وَفَضَّلْنَاهُمْ عَلَىٰ كَثِيرٍ مِمَّنْ خَلَقْنَا تَفْضِيلًا
Artinya:
Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam. Kami angkut mereka di daratan dan di lautan. Kami beri mereka rezeki yang baik-baik. Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna atas kebanyakan makhluk yang telah kami ciptakan (QS. Al Isra: 70) 

Kepercayaan kita selama ini sebagai manusia disamarkan oleh keinginan-keinginan yang memuaskan hasrat (hawa nafsu), terlebih merasa paling mampu dan terkadang merasa menjadi seseorang yang paling beruntung meski pada lain sisi memiliki pemikiran yang dangkal dan terombang-ambing.

Memang pada dasarnya mengambil sebuah ayat sebagai penguat bisa menjadi sesuatu yang salah jika tidak memahami, oleh karenanya untuk menghindari hal tersebut akan disertakan tafsirannya dari kitab Durratun Nasihin sebagai bentuk penjelasan dari ayat di atas.

Berikut ini tafsir yang diambil dari kitab Durratun Nasihin tersebut:

(Wa laqad karramnā banī ādama) Dan sesungguhnya Kami telah memuliakan anak cucu Adam, dengan rupa yang elok, tabiat yang seimbang, perawakan yang sedang, kemampuan membedakan dengan akalnya, memahamkan dengan bahasa lisan, isyarat dan tulisan, petunjuk kepada jalan-jalan penghidupan dunia dan akhirat, kemampuan menguasai isi bumi, kepandaian berindusti, menghubungkan antara sebab-sebab dan akibat-akibatnya, baik yang datang dari langit maupun bumi, sehingga menghasilkan manfaat-manfaat bagi mereka, dan nilai-nilai yang tidak mungkin disebutkan seluruhnya satu persatu. Di antaranya adalah seperti yang disebutkan oleh Ibnu Abbas R.A., yaitu: Bahwa tiap-tiap binatang mengambil makanan dengan mulutnya kecuali manusia. Manusia mengangkat makanannya ke mulut dengan tangannya.

Manusia yang dilabeli “sempurna” tak ubahnya seperti sapi perah bagi pemikirannya sendiri, mengapa demikian? Karena akal manusia terlalu diandalkan, oleh karenanya terciptalah sebuah kecongkaan dan kepongahan yang menenggelamkan hati bahkan parahnya menjadikannya hilang; dilupakan oleh dirinya sendiri, sejatinya dalam tubuh manusia bersemayam cahaya; kekuatan Tuhan yang tidak bisa ditandingi oleh apapun.

Ketergantungan manusia terhadap pengetahuannya sendiri menjadikannya buta dan seakan-akan menjadi sosok paling berkuasa atas segalanya. Tapi di satu sisi ketika mengalami kemunduran, akan jatuh dan keterpurukan, ia mengatakan: Tuhan tidak berpihak padanya sedangkan dari dulu ia melupakan-Nya, lalu Tuhan yang mana yang dikatakan tidak berpihak ataupun tidak adil dalam sudut pandang kita?

Kembali lagi pada tafsir ayat di atas di mana dalam penjelasannya berbunyi:

(Wa ḥamalnāhum fil-barri wal-baḥri) Dan Kami angkut mereka di daratan dan di lautan di atas kendaraan-kendaraan darat dan laut. Kalimat ini berasal dari: Hamaltu Hamlan (Aku beri dia kendaraan-kendaraan yang ia tumpangi), atau dari: Hamalnahum Fiihimaa (Dan kami angkut mereka dalam kendaraan daran dan kendaraan laut), sehingga mereka tidak dibenamkan oleh bummi dan tidak ditenggelamkan oleh air.

Kita sebagai manusia selalu berupaya untuk menyelamatkan diri, sedangkan dalam benak pikir kita selalu merasa bahwa yang paling mampu adalah diri sendiri. Padahal jika dipahami lebih jauh, segala kekuatan lahir dari kekuasaan Tuhan dan atas karunia-Nya. Kita diberikan sebuah nikmat yang agung tapi disia-siakan dan lebih mementingkan sesuatu yang tampak oleh mata. Kita selalu berpikir melepaskan diri dari jeratan-jeratan pilu dan merasa segala hal di dunia ini bisa dikendalikan oleh nilai-nilai yang diperoleh pengetahuan umum.

Kita lupa bahwa sebenarnya manusia tidak lebih dari onggokan tanah yang diberi kehidupan. Parahnya lagi, kita seakan-akan memiliki sifat heroisme tinggi dan mampu membentengi diri dari kerapuhan-kerapuhan. Kita sebagai manusia tidak pernah belajar dan selalu saja mengedepankan emperisme akademis maupun fatwa-fatwa yang diturunkan manusia lain. Menjadikannya sebuah dokrtin dan dogmatis, kita percaya bahwa dunia berada di genggaman. Padahal yang dipercaya itu tidak lebih dari ilusi belaka, mengaburkan pandangan dan kejernihan pikiran (hati).

(Wa razaqnāhum minaṭ-ṭayyibāti) Dan Kami beri mereka rezeki dari yang baik-baik, yang enak-enak, baik yang dihasilkan oleh pekerjaan mereka ataupun oleh selain pekerjaan mereka.

(Wa faḍḍalnāhum ‘alā kaṡīrim mim man khalaqnā tafḍīlā) Dan Kami lebihkan mereka dengan kelebihan yang sempurna dari kebanyakan makhluk yang Kami ciptakan, dengan kemenangan dan penguasaan atau dengan kehormatan dan kemuliaan. Sedang yang dikecualikan adalah jenis malaikat atau orang-orang istimewa dari kalangan manusia sendiri. Dan tidak dilebihkannya sejenis makhluk, tidak harus berarti tidak dilebihkannya beberapa individu dari jenis tersebut.

Apa yang kita percaya selama ini, kekuatan dan kemampuan sendiri atau justru kita lebih condong pada kesesatan pikiran? Apakah kita sudah menjadi satu dari sekian puluhan ribu makhluk pilihan Tuhan? Manusia dengan karunia tertinggi dan ilmu yang bisa menyelamatkan dirinya meski dalam segala upaya terdapat pembenahan untuk senantiasa patuh dan taat kepada sang Khaliq?

Kita bukanlah Nabi, Rasul, dan Ulama yang memiliki karomah dan keistimewaan, kita hanyalah balutan daging yang diambil dari saripati tanah kemudian dijadikan hamba Tuhan yang memiliki tanggung jawab sebelum kembali kepada-Nya. Yang alim dan para Ulama masih terus memperbaiki diri sedangkan kita sebagai manusia biasa tanpa keistimewaan apapun terkadang lupa mengingat siapa yang telah memberikan sehimpun pengetahuan dan miliaran kesempatan untuk menjadi lebih baik.

Mari kita terus memperbaiki diri dengan tetap kembali pada sebuah ajaran, apapun kepercayaan yang dianut jangan sampai menjadikan kita sebagai pribadi yang lupa akan Tuhannya. Semoga kita senantiasa mengingat bahwa hidup adalah untuk melanjutkan perjalanan dan menebar kebaikan-kebaikan.

Menjadi manusia seutuhnya bukanlah sebuah pekerjaan yang mudah, akan ditemukan banyak rintangan dan halangan karena hidup adalah bejana berlumpur yang harus dibersihkan sepanjang waktu.

Tidak ada kesalahan yang tak bisa diperbaiki dan tidak ada kebodohan yang tidak bisa dihilangkan. Berpikirlah dengan bijak sebab hidup selalu membawa kita pada sesuatu yang tidak mudah ditebak. Biarlah masa depan menjadi sebuah misteri dan masa lalu menjadi pelajaran. Mulailah memperbaiki diri dengan cara menabahkan hati dan terus memupuk kebaikan-kebaikan tanpa disadari manusia lainnya. Jagalah terus cahaya yang bersemayam dalam diri, jangan biarkan ia redup barang sekalipun sehingga tidak ada kegelapan yang menyulitkan kita untuk berpikir selayakanya manusia.

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *