Read Time:6 Minute, 56 Second

Menabahkan Segala Semoga – Semoga sampai, salam dan perasaan yang tak bisa dihaturkan ucapan ini. Tanpa tata bicara dan tatap muka, semoga kelak segala doa yang melambung tinggi jatuh di tangan semesta. Impian dan cinta yang tak terucap, semoga kembali diingat oleh ingatan yang mulai tua. Salam ini kuhaturkan kepadamu yang senantiasa menabahkan rasa dari segala perkara.

Terima kasih yang tak bisa kuukur, dari tempat pertama kali mengenal dunia dan darimu pula semesta mengajarkan bahwa hidup tak pernah berhenti di satu titik. Ia akan tetap berjalan mengikuti garis lurus yang terkadang berkelok-kelok – dan untuk ibuku, terima kasih telah mengajarkan bagaimana seharusnya cinta ditabahkan dan jiwa-jiwa yang rapuh ditangguhkan.

Kelak, kehidupan akan memberitahu bahwa ada sosok tangguh yang tak disebutkan dalam buku sejarah. Ia cukup tabah dan penuh cinta kasih, darinya akan dipetik pelajaran tentang hidup yang sukar diterima akal dan perasaan.

Sudah setengah abad usiamu dan aku masih seperti ini, menjadi seorang anak mungil yang selalu asyik dengan masa mudanya; belum mampu memberikan sesuatu yang dianggap oleh orang-orang disebut sebagai kesuksesan dan keberhasilan. Terlebih dengan perjalanan jauh dari seberang pulau menuju kota yang megah ini – banyak yang beranggapan terlalu sukar keberhasilan diraih.

Jika kembali mengenang dan mengingat-ingat, masa silam di mana tetes keringat membasuh tubuh dan perjuangan yang tak pernah berhenti. Ingin rasanya berhenti sejenak dan meringankan bebanmu, menghentikan waktu untuk tidak memperlakukanmu begitu keras.

Namun aku tidak perlu menyalahkan keadaan dan kenyataan bahwa keterbatasan lahir dari keluarga ini. Di mana hidup dengan kekurangan jika dibandingkan dengan kebanyakan orang. Tapi, dari kecil aku selalu diajarkan untuk tidak membanding-bandingkan sesuatu; membenturkan diri pada satu fakta yang sebenarnya bisa diraih.

Pun sudah dari sejak dini dunia mengajarkan padaku melalui dirimu, sosok tangguh yang tak pernah mengeluh dan hanya menjalani hidup seperti apa yang dibisanya. Kesederhanaan dan penuh lapang dada, menerima nasib dan takdir.

Mungkin Ayah dan Ibuku tidak akan membaca tulisan ini, kecuali diberitahu (diceritakan) oleh kedua saudaraku atau oleh sanak keluarga yang lain. Tapi tidak mengapa, karena poros hidup tidak sebentar berputarnya. Ia akan tetap mengitari ruang-ruang dalam jiwa.

Pun jika kedua saudaraku tidak menceritakannya tidak akan jadi soal, siapa tahu Tuhan menyampaikan salam ini dengan cara yang tidak pernah bisa dimengerti oleh logika maupun akal manusia.

Biasanya, aku akan bertanya beberapa hal tentang hidup yang tak bisa dimengerti. Tentang sebuah mimpi dan penafsirannya. Bukan berarti beliau mampu menerjemahkan mimpi seperti dalam buku-buku tafsir mimpi, tapi lebih pada bagaimana pengalaman hiduupnya.

Ada sebuah ihwal tentang kehidupan yang masih belum kupahami, sayangnya bertanya melalui telepon dan sambungan seluler tidak memuaskan bagiku. Ada sesuatu yang tidak sampai dan ada sesuatu yang tidak bisa dicerna hanya melalui suara.

Mungkin ini bisa jadi karena sudah terbiasa, setiap ada pertanyaan-pertanyaan akan bertemu secara langsung atau bisa jadi ada rasa haru yang kubutuhan untuk menepis ragu-ragu sifatku.

Namun tidak mengapa, tetap akan aku sampaikan kepadamu melalui tulisan ini. Siapa tahu seseorang membaca dan menyampaikannya padamu, karena sepengetahuan anakmu ini orang-orang sekarang cukup intens berselancar di dunia maya dan cukup betah beramah-tamah dengan navigasi dan menu-menu sosial media.

Waktu itu kau pernah bilang kan, Yah? “Hidup adalah kepulangan yang tidak perlu dipertanyakan waktunya dan mengenai jalannya adalah baik tidaknya sebuah amalan”.

Dari apa yang dibilang waktu itu, ada yang aku pahami: Hidup selalu baik dan ketiadaan adalah kesakralan dari sebuah ketetapan yang tak bisa dilawan akal apalagi ditawar-tawar oleh perasaan. Tapi bagaimana dengan kebenaran dan kesalahan dalam hidup, apakah ia terlepas dari kata baik dan benar? Dan seperti apa sebenarnya baik dan benar itu? Atau begini saja, apakah yang baik sudah tentu benar dan benar apakah sudah termasuk baik?

Pertanyaan lain yang ingin kusampaikan mengenai kabar kehidupan. Ranum senja usia. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana jika kelak upaya dan usahamu tak berbuah hasil. Keberhasilan yang banyak dipikirkan orang justru sebaliknya, apakah kau akan berkata:

Tenang saja, setiap jalan ada batu-batu kecil yang kadang membuatmu luka. Akan kau temukan jurang besar yang membuatmu jatuh, tersasar dan hilang arah. Selama kau percaya, hidupmu baik-baik saja maka kepercayaan itu akan membimbingmu pada jalan yang seharusnya.

Kau tahu sendiri kan, bahwa perbincangan dan kabar burung selalu terdengar lebih lantang dari fakta itu sendiri? Kuharap desir angin yang sampai pada telingamu takkan membuatmu percaya bahwa aku hilang kendali dan tak tahu berterima kasih untuk setiap usaha dan jerih payahmu. Terlebih stigma yang distimulasikan pada keadaan oleh tetangga cukup merobek gendang telinga, jika tidak kuat maka sobeklah pendengaran.

Terkait dengan hal yang menjurang pedih tersebut. Semoga tak kau benarkan duduk perkaranya, karena aku selalu tahu batasan dan seperti apa beratnya perjuanganmu. Keringat yang mengalir deras membasahi tubuhmu terkadang seperti kucuran air dari bak mandi.

O iya, hampir lupa … Bagaimana kabarmu hari ini, kudengar kau kemarin sakit dan beristirahat dari panjangnya denting waktu? Maaf jika anakmu ini jarang menghubungi apalagi bertanya tentang kabar baik dan buruk melalui jejaring sosial maupun surat kabar modern.

Bukan tidak mau, hanya saja sudah jadi kebiasaan dari dulu. Kau tentu tahu sendiri, kehidupan anak kampung yang tahu kehidupan kota — tapi bukan berarti aku berbuat yang aneh-aneh. Bukan hal itu yang aku maksud, melainkan kebiasaan tanpa telepon seluler.

Waktu dulu, ketika masih Sekolah Dasar, Sekolah Menegah Pertama dan Atas tidak tahu yang namanya HP. Apalagi, surat biasa pun tak pernah kubuat untukmu. Aku cukup ingat dan tersemat dalam tempurung kepalaku, kau selalu bilang:

Jaga diri dan belajar dengan benar. Tidak pernah kau tegaskan, harus berapa kali menghubungimu. — bukan berarti anakmu ini tidak ada inisiatif, melainkan cukup tahu kebiasaanmu.

Yah … Bagaimana perkembangan pekerjaanmu? Masih kerja sendiri atau sudah ada yang membantu? Semoga kau sehat selalu dan merasakan jerih payahmu dari perjuangan anakmu ini. Meskipun jika dihitung dan diibaratkan gundukan gunung keberhasilan, tidak ada kata cukup untuk membalasnya.

Setidaknya kau tak perlu bersusah-payah lagi dalam hal pekerjaan dan mengurusi keluarga. Cukup istirahat dengan tenang, menunggu anakmu pulang kerja.

O iya Yah … Bagaimana kabar Ibu dan saudara-saudaraku di sana? Ibu masih sering bilang dan mempertanyakan kepulanganku gak? Karena setiap kali nelpon pasti ditanya: Kapan pulang, sudah makan, dan semacamnya? Kau sering bilang kalau Ibu selalu rindu. Aku paham hal itu tapi ya mau bagaimana lagi, Yah? Ada sesuatu yang harus diselesaikan di sini sebelum akhirnya berjumpa dan bersama. Menenun tawa dan menghasilkan bahagia.

Ayah tentu tahu betul, kan? Baik kakak, adik, maupun aku selalu seperti balita kecil yang merindukan pelukannya. Tolong sampaikan salamku ini ya, setidaknya untuk sebuah kabar kepadanya.

Bedeh rasa kerrong se tak bisa e obati e ate. Nyopre tak bu ambu saban bakto. Ana’en long mulong bakti se tak ma nyake’ ka ate. Mander e terima ben e berri’ paste sareng pangeran se ma cellep ate.

Sudah dulu ya Yah? Nanti kubuat surat lainnya untuk kamu. Kalau bukan mungkin kuhaturkan salam melalui puisi:

Se ma nyaman ate
ben ma cellep panas akal
bedeh rasa se tak paste
tak bisa e bitung are:
omor ben pateh

Nyopre saban are;
bile dateng bakto e budi are
mander gusti apareng rejeki
ma polong sa keluarga e kennengan se nyaman
soarge moga-moga e pa deddi ganti
amal dari arabat nak potona.

***

Kita tidak perlu risau meski sejarah tidak mencatatanya. Pun kita tidak perlu berkecil hati karena sebuah keterbatasan yang melilit keadaan. Kita hanya oleh percaya, segala perbuatan yang diperas dari keringatnya kelak membuahkan hasil. Hilangkan segala kerisauan dan keraguan, sebab hidup selalu mengajarkan bahwa ada sosok tangguh yang tak pernah alpa berjuang; menabahkan segala semoga dan mengamini butir-butir doa.

Yang meragukan, biarkan saja dan yang menyepelekan jangan dijadikan beban. Hidup terus berlanjut meski cacian dari pertanyaan datang dari banyak orang. Teruslah bergerak, jalani, dan bentangkan segala mimpi; melangit tanpa sekalipun takut dikembumikan.

Jika kita kekurangan pengalaman soal hidup, belajarlah kepada kedua orang tua. Mereka cukup pandai dan ahli perihal memaknai kehidupan dan selalu tahu bagaimana caranya bersikap tegar; lapang dada dan bersyukur.

Teguh dan tergarlah sebab perjuangan tidak pernah ada yang sia-sia. Perihal doa yang selalu dipertanyakan, cukup serahkan kepada Tuhan. Ia mengetahui apa yang dibutuhkan dan tidak. Jalani saja segala hal yang ada di depan mata, pertahankan apapun yang sudah digenggam. Kelak Tuhan akan meninscayakan segala doa yang lupa diingat.

Tulisan ini adalah sebuah salam yang tidak bisa diucapkan kepada orang tuaku, entah karena perbedaan jarak dan waktu. Tapi aku meyakini, pesan dan perasaan yang mengalir bisa dirasakan oleh mereka meski tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir ini.

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *