Read Time:8 Minute, 16 Second

Melestarikan Budaya dan Kesusastraan Madura – Perkembangan global dan teknologi memegang peranan penting dalam mempertahankan budaya maupun keberlangsungan budaya itu sendiri. Begitu pula dengan kesusastraan di daerah yang semakin hari semakin terkikis dengan adanya media sosial, teknologi-teknologi baru berbasis aplikasi maupun situs-situs resmi.

Informasi yang berkembang, bertebaran harus dikaji lebih jauh dan dipertimbangkan. Hal ini diperlukan untuk menghindari kesalahan dalam memahami, sebagai antisipasi dalam menerima informasi. Mudahnya, meminimalisir informasi buruk dan tidak benar.

Jangan-jangan selama ini kita dijajah dengan gaya baru tanpa disadari, karena setelah Perang Dunia I dan II, militerisme tidak lagi dipakai melainkan ada penjajahan alternatif dengan teknologi dan kemudahan akses informasi.

Manusia diberikan kemudahan dalam mengakses berbagai informasi dan disajikan hal-hal instan dengan adanya teknologi. Contoh sederhananya adalah pencarian informasi dengan menggunakan Google (pencarian Google).

Kemudahan ini bisa berdampak negatif, salah satunya membunuh nalar kritis dan menjadikan orang-orang malas berkreasi. Meski tidak bisa dipungkiri manfaatnya juga ada seperti kemudahan akses dan referensi, tapi yang harus dipertanyakan yaitu:

Apakah perkembangan teknologi ini menjadikan kita sebagai manusia cerdas memilih informasi dan referensi atau menjadi seseorang yang bodoh, tidak memiliki kepekaan atau bahkan semakin menjadikan kita mundur beberapa abad? Semua jawaban itu bisa direfleksikan dalam diri sendiri.

Imperialisme dengan mudah diterapkan karena perkembangan teknologi menjadikan informasi menyebar dengan cepat. Apalagi orang-orang awam cenderung mempercayai apa yang dilihat tanpa ada inisiatif untuk mengkajinya dan mengecek kebenarannya. Yang tampak oleh mata dan kabar burung yang terdengar dijadikan kebenaran mutlak sehingga menggeser budaya-budaya lama dan cenderung menciptakan social distancing maupun kepanikan masyarakat.

Budaya dan Sastra

Keragaman budaya di Indonesia tidak bisa dipungkiri, dasar terbentuknya negara ini adalah perbedaan; kebhinnekaan yang bahkan menjadi salah satu kalimat pamungkas selama ini. Keberagaman ini harus dijaga dengan baik, bukan justru menjadi alat pemecah-belah. Keberagaman maupun perbedaan adalah identitas yang melekat dalam kultur budaya Indonesia. Hidup dengan tenang, dengan kepercayaan dan kebiasaan-kebiasaan sendiri. Menghargai apa yang diyakini dan dikerjakan oleh orang lain merupakan bentuk kemanusiaan.

Keberagaman di Indonesia bisa dilihat juga dari kesusastraannya. Jika mengambil sebuah penjabaran, kesusastraan adalah sebuah cipta rasa yang lahir dari pemikiran individu dengan melihat dan mempertimbangkan segala aspek kehidupan, baik itu kebiasaan orang-orang di daerah maupun perkotaan.

Oleh karenanya kemudian ada sebuah sebutan, karya sastra yang merupakan manifestasi dan tercermin dalam pandangan hidup juga nilai-nilai moralnya. Emperisme menjadikan manusia sebagai pribadi yang mampu memadukan antara sastra lisan, karya tulis, dan kebudayaan juga ajaran agama.

Ada unsur yang tidak bisa dihilangkan dari kehidupan manusia, yaitu identitas. Ia akan terus melekat meski zaman berubah, teknologi berkembang dan informasi cepat tersebar. Budaya adalah salah satu faktor yang membentuknya. Sedangkan faktor lainnya adalah emperisme dan pendidikan yang menjadi salah satu sumber pencarian pengetahuan.

Hal ini banyak ditemukan dalam sastra daerah yang tidak pernah lepas dari pengaruh sosio-kultural yang kemudian menjadi identitas sekaligus kebiasaan-kebiasaan. Tiga wujud kebudayaan yang dipaparkan oleh Koentjaraningrat ini bisa dijadikan bahan pertimbangan dan diskusi sehingga tercipta analisis kritis.

Ketiga wujud tersebut antara lain: 1) Ideas yang bisa diartikan sebagai ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan hal-hal yang serupa; 2) Act/activitions yang jika dijlasan mengandung unsur tindakan manusia (social system) yang menghasilkan bukti fisik seperti karya; 3) Artifacts yaitu hasil yang diperoleh dari aktivitas, perbuatan dan karya manusia itu sendiri.

Di Madura terdapat sebuah kebudayaan yang sampai saat ini masih eksis meski tidak bisa dipungkiri akan tergerus oleh perkembangan zaman bahkan bisa jadi akan hilang apabila generasinya lupa dan enggan untuk merawatnya.

Padahal jika dipahami lebih jauh, kebudayaan itu merupakan identitas sekaligus kebangga tersendiri karena dari sana kita sebagai generasi jadi tahu seperti apa leluhur berjuang, belajar, dan membangun kehidupan sosial yang baik; mempraktikkannya sebagai nilai-nilai kehidupan juga saran untuk menyampaikan ajaran.

Kesenian ini bisa berupa pertunjukan maupun berupa naskah yang digitalisasi dalam bentuk manuskrip-manuskrip atau juga bisa dinarasikan sebagai artikel. Targetnya tentu saja sebagai bahan dan informasi untuk banyak orang, terutama orang-orang di luar Madura.

Sedangkan untuk orang-orang Madura sendiri bisa dijadikan acuan dan diskusi untuk tetap mempertahankan budaya dan kesenian yang sudah ada sehingga tidak tenggelam di tengah-tengah perkembangan dunia.

Selain itu, budaya yang masuk dalam kategori kesenian bisa menjadi pertukaran budaya yang epik apabila dikembangkan dengan cara yang berbeda. Pertukaran itu bisa berupa informasi melalui media-media yang berkembang saat ini meski tidak bisa disangkal bahwa perkembangan teknologi memiliki dampak negatif. Tapi dampak positifnya harus dioptimalkan sehingga informasi tentang kesenian yang ada di Madura bisa dinikmati oleh berbagai kalangan.

Budaya yang ada sebaiknya dijaga dan dirawat. Tugas dan kewajiban tersebut sebenarnya bukan hanya diserahkan kepada generasi selanjutnya (pemuda-pemudinya) melainkan juga harus ada kesadaran dari generasi sebelumnya (pendahulu maupun orang-orang yang sudah tahu) untuk mengenalkan, mengajarkan, dan memberitahu tentang betapa pentingnya menjaga kekayaan tersebut.

Arabat bhasa pada ben arabat tengka. Arabat bhasa, ma bagus tengka.

Merawat kebudayaan maupun kesenian yang sudah ada bisa dikatakan sebagai upaya memperbaiki perilaku dan menghilangkan stigma-stigma yang berkembang di masyarakat luas bahwa orang Madura identik dengan kekerasan. Merubah persepsi ini sangat dibutuhkan karena bisa jadi kebenaran yang disebarkan oleh media-media sampai saat ini tentang orang Madura hanyalah kebenaran fungsional, begitu pun dengan objektivitasnya.

Kebenaran fungsional dan objektivitas yang dipakai oleh media akan tetap mengarah pada ranah keuntungan korporasi. Artinya, ini menjadi tanggung jawab orang-orang Madura, terkhusus pemuda-pemudi Madura yang mengenal pendidikan.

Jika mengambil sebuah analogi dan peribahasa lama yang diajarkan oleh leluhur. Maka bisa ditarik pemahaman bersama bahwa arabat bhasa pada ben arabat tengka, hal ini serupa dengan yang sudah diajarkan oleh orang tua dan guru ngaji: Je’ sampe’ loppa ka lalampana bangeseppo ma’le ta’ deddi na’poto se ta’ taoh ka bangsana dhibi’ ben todus ka bhasa se eka’andi’.

Contohnya bisa dilihat dari perkembangan kesusastraan Madura yang semakin hari semakin jarang diminati dan banyak yang tidak diketahui oleh dhat-ngodadhadan. Hal ini menjadikan sastra Madura seakan-akan mati suri dan jika dibiarkan akan menyebabkan kepunahan. Bukankah sudah banyak disebutkan, generasi adalah kunci untuk merubah suatu peradaban. Tapi bisa juga generasi bisa menjadi penghancur yang menghilangkan tradisi sekaligus menjajah bangsanya sendiri.

Keengganan, ketidaktahuan, dan stigma juga persepsi ini bsia jadi disebabkan oleh anggapan anak mudanya bahwa Bhasa Madhura atau sastra Madura sulit dipahami. Misalnya saja dalam penulisan dan penciptaan Bangsalan, Sendhilan, Paparegan, Saloka, dan Tembang. Karya sastra yang masuk dalam jenis partikularis memang memiliki aturan-aturan khusus sehingga untuk mempelajarinya butuh keuletan dan kesabaran.

Persepsi dan anggapan bahwa sastra Madura itu sulit harus dihilangan sejak dini sebab jika tidak ada keinginan untuk mencari tahu, belajar, dan melestarikan maka sastra Madura akan benar-benar hilang dari peradaban. Sebagai analogi dan gambaran, saya ambil contoh dari Bangsalan. Sebelumnya akan saya paparkan sedikit Bangsalan itu apa untuk menghindari kesalahpahaman. Bangsalan merupakan ungkapan yang dirangkai sedemikian rupa dengan menggunakan pola indirectness dengan tiga pilar yaitu, Bangsalan, Teggessa, dan Oca’ panebbus.

Bangsalan adalah ungkapan sastra kongkrit dalam kalimat dan tagessa adalah makna yang dirujuk oleh bangsalan itu sendiri. Sedangkan Oca’ panebbus adalah makna dari Bangsalan. Bentuk Tagessa memiliki kemiripan dengan kata penebusnya (mengandung Ghuru Sastra maupun Ghuru Swara), hal ini juga terjadi di beberapa karya sastra Jawa. Ghuru sastra adalah miripnya bentuk tulisan antara Bangsalan dan Panebbus, sedangkan untuk Ghuru Swara adalah miripnya bunyi ucap Bangsalan dan Panebbus.

Pada karya sastra Madura lainnya akan ditemukan aturan yang megharuskan terpenuhi ketukan maupun suku kata sebanyak delapan (disebut sebagai bellu’ keccap). Hal ini bisa dijumpai dalam pantun Madura meski sebenarnya pantun Madura sama dengan pantun pada umumnya, yaitu sama-sama memiliki bait dan baris atau dalam istilah pantun Madura disebut dengan addhegan dan padda/biri.

Yang membedakan antara pantun Madura dengan pantun yang diajarkan di sekolah maupun dalam pelajaran Bahasa Indonesia adalah aturan khususnya. Pantun Madura dalam addhegan terdiri dari empat baris (empa’ padda) dan pada tiap-tiap padda setidaknya berisi delapan ketuk maupun suku kata yang bunyi serupa (bellu’ keccap) serta pada akhir padda pertama kesamaan bunyi harus terkandung dalam baris ketiga baik itu dengan lafal atau suara. Begitu pun dengan padda kedua harus mengandung bunyi dengan lafal atau suara di padda ke empat.

Kembali lagi pada pembahasan keengganan dan persepsi tentang sulitnya aturan. Hal yang bisa saya sampaikan adalah: Keenganan karena ada aturan ini sebenarnya harus dihilangkan dalam pemiiran dan perasaan sehingga unsur keterpaksaan bisa ditanggalkan, begitu pula dengan ketidaktahuan yang selama ini disadari.

Sebagai generasi yang memegang peranan penting untuk mengembangkan tradisi (budaya, kesenian, dan kekayaan Madura lainnya). Solusi yang bisa ditawarkan untuk melestarikan kebudayaan dan kesusastraan Madura adalah kita sebagai generasi mau belajar dan mendalami baik itu dari pengumpulan informasi tentang budaya-budaya maupun kesusastraan Madura itu sendiri.

Hal ini bisa menjadi salah satu alasan terjadi diskursus — menimbang bahwa budaya menjadi satu kesatuan tak terpisahkan — di kalangan pemuda-pemudi Madura baik itu yang berkuliah maupun mereka yang memang sebelumnya sudah memiliki inisiatif untuk mengenalkan kebudayaan dan kesusastraan Madura ke khalayak umum.

Perkembangan zaman dan pertukaran budaya bisa menjadi keuntungan tersendiri karena akan ada pembaharuan dalam mengenalkan budaya dan sastra Madura ke khalayak luas.

Hal ini harus disadari oleh generasi daerah lain, sehingga kekayaan tersebut tidak hilang meski zaman terus berubah-ubah. Pertahankan budaya yang ada tanpa membuang kebaharuan yang bersifat baik juga memiliki manfaat.

Semoga kita menjadi generasi yang tidak mengkhianati leluhur sendiri dan cenderung merasa bangga dengan budaya orang lain yang masuk ke Indonesia. Harus ditanamkan dalam diri dan senantiasa diingat bahwa sejatinya budayamu adalah identitasmu yang tidak bisa dihilangkan apalagi diganti dengan sesuatu yang baik menurut logika saja. Harus ada kajian-kajian dan diskusi berkelanjutan untuk mencegah pelengseran budaya sendiri.

Satu hal lagi, jangan pernah membuang Bahasa Ibu karena darinya kau belajar berbicara dan mengenal bahasa dunia yang katanya luar biasa itu. Budaya dan perkembangan sastra yang ada harus dijadikan referensi dan pertimbangan, apakah budaya itu merusak atau mendatangkan kebaikan sehingga budaya yang sudah ada tetap eksis dan bertahan?

Tulisan ini bukanlah kajian teoritis yang bersifat ilmiah, hanya sebatas tulisan keresahan. Jadi tidak akan ditemukan sumber-sumber otentik, namun bisa dijadikan bacaan ringan khususnya orang Madura, baik yang ada di Pulau Madura maupun yang ada di luar Madura.

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *