Read Time:3 Minute, 14 Second

Legenda Kehidupan: Seorang Penyelamat – Berdamailah dengan mimpi, agar ia tidak sebutuk pikiran pengecut. Berdamailah dengan segala hal yang belum diketahui, sebab belajar dan memperbaiki diri adalah cara yang sering dilakukan manusia.

Dalem odhi’ paneka macokop. Coma rassa sokkor sareng baktena dhe’ reng seppo; guru juga ratona [1]

Jika hidup adalah sasana dan telenovela, maka berjalanlah dan bergeraklah semestinya. Sesuai dengan yang telah digariskan. Tidak perlu merasa takut apalagi mempertanyakan masa depan seperti apa. Hidup adalah hari ini dan esok adalah mimpi saat terlelap. Sedangkan masa lampau adalah cerita-cerita yang akan dikenang dan dijadikan pembelajaran. Baik oleh diri sendiri maupun orang sekitar.

Jangan sampai dilupakan, falsafah lama yang diajarkan oleh leluhur. Falsafah yang menjadi pegangan dan cara mendidik diri sendiri untuk tidak lupa kepada guru tolang — seorang guru yang pertama kali mendidik dan mengajarkan tentang sebuah ilmu.Kelak peradaban akan mengisahkan sebuah legenda besar yang banyak dilupakan. Seorang bayi yang berlayar di sungai Nil. Alang-alang menjadi saksi perjalanannya menuju hilir sebelum sampai pada pelukan seorang Permaisuri Mesir. Ia menyelamatkan dirinya sendiri dari Padang Pasir dan menemukan kekuatan di Gunung Suci. Seorang asing yang diterima oleh keluarganya. Membelah lautan dan menutup kekuasaan Ramses II dengan kekuatan pasti dari Ilahi.

Guru tolang jiah se ngajerin kakeh ajelen, nguca’ ben ngaji. Pa enga’ mun tadhe’ guru tolang kakeh tak kera deddhi oreng se jember odhi’en [2]

Falsafah lama jangan sampai hilang dan dilupakan. Tanamkan dalam kepala dan hati, sehingga apa yang sudah diajarkan oleh leluhur tidak hilang tergerus zaman.

Oreng se nyare elmo jiah Cong, jhe’ sampek loppah ka ca oca’an bapak-ebuna, guruna, ben  ratona. Bekto ngode, pa tandhes nyare elmo. Bileh depak ka baktona tak kasta. Tak loppah ka bangsana. Ben pole mun bede e bangsana oreng jhe’ sampek loppah, ngastete ben ngormat dhe’ ka biasa’na [3] Di mana bumi dipijak di situ langit dijunjung.

Terkadang perkembangan zaman menjadikan kita lupa bahwa ajaran leluhur banyak ditinggalkan dan dilupakan. Kita sebagai anak cucu parahnya menganggap hal itu sebagai sesuatu yang kolot; tertinggal dan terbelakang. Namun yang tidak disadari adalah, hal itu membunuh kebiasaan dan budaya yang sudah ada serta dijaga mati-matian oleh nenek moyang.

Perkembangan zaman seakan-akan menjadikan kita lupa pada bahasa ibu sendiri, lupa pada kekayaan sendiri bahkan mengagungkan budaya orang lain. Seperti kita hendak menjadi salah satu faktor, penjajahan dengan gaya imperialis. Kita sebagai generasi dan penerus tidak mengkaji pentingnya suatu ajaran leluhur. Ajaran yang sudah berabad-abad lamanya dijaga; diajarkan dari generasi ke generasi.

Contoh sederhananya, apakah kita masih ingat sastra lama yang ada di kampung halaman sendiri? Apakah sastra dan kekayaan budaya lainnya masih eksis atau justru hilang ditelan zaman; hilang karena ketidakpedulian kita sebagai penerus? Budaya kita adalah budaya lokal yang penuh dengan keberagaman, jangan sampai perkembangan zaman membunuh kekayaan tersebut sehingga ke depannya anak cucu dan generasi hanya tahu ceritanya saja tanpa pernah tahu bentuknya seperti apa.

* Terjemahan Bahasa Madura

[1] Dalam hidup adalah bersyukur. Hanya rasa syukur dan bakti kepada orang tua; guru dan raja (dalam hal ini adalah penguasa maupun kepala pemerintahan seperti Presiden, Gubernur, Bupati dan Kepala Desa).

[2] Guru Tolang adalah Guru yang pertama kali mengajarkan kita membaca dan mengaji, biasanya dalam sosial dan kehidupan di Madura, yang pertama kali menjadi Guru Tolang adalah orang tua entah itu Ibu maupun Ayah. Ini diambil dari salah satu pribahasa Madura. (Terjemeahan: Guru Tolang itu yang mengajarkanmu berjalan, berbicara dan ngaji. Perlu diingat jika tidak ada Guru Tolang, kamu tidak akan menjadi orang yang hidupnya baik dan penuh dengan kebaikan-kebaikan).

[3]  Orang yang mencari ilmu itu Nak, jangan sampai lupa dengan ajaran dan fatwa orang tua, guru, dan kepala pemerintahan. Sewaktu mudah, perbanyak mencari pengetahuan. Biar tidak menyesal jika waktunya telah tiba. Tidak melupakan bangsanya (kaumnya) sendiri. Dan lagi jikalau ada di wilayah orang lain (ini biasanya diingatkan kepada anak-anak Madura yang merantau ke luar pulau) jangan sampai lupa, berhati-hati, dan menghargai budayanya.

Yogyakarta, 08 Maret 2020

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *