Categories
Kontemplasi

Kontemplasi Atas Hidup dan Prosesnya

Banyak yang berjanji dan banyak pula yang mengingkari. Semuanya berusaha untuk menguntungkan diri sendiri. Kemauan yang begitu kuat terkadang menjadi belati dan pisau bermata dua, ia bisa menyerang tuannya sendiri meski telah lama bersama menjalani hari-hari.

Bagi sebagian orang hidup adalah hukum timbal balik. Ketika berbuat baik maka kebaikan pula yang akan diterima sebagai balasan dan sebaliknya jika berbuat buruk maka keburukan pula yang akan diterima. Hal ini sebenarnya bentuk ganjaran atas apa yang kita beri, tidak ada yang keliru namun bukan berarti sepenuhnya benar.

Mengapa demikian, karena ada imbalan yang bisa langsung diterima dan ada pula yang menunggu waktu tertentu. Artinya tidak semua hal langsung diganjar saat itu juga. Ada sebuah proses dan waktu yang harus dilewati, jika beruntung maka ganjaran akan diperoleh saat itu juga dan bagi yang kurang beruntung akan menerimanya di kemudian hari.

Sejatinya hidup adalah bakti dan harus dijalani untuk memenuhi kontrak dan janji yang telah disepakati. Oleh karena itu, tidak perlu menghitung sudah berapa banyak kebaikan yang sudah ditebar dan sudah sebermanfaat apa pemberian kita. Seperti halnya perbuatan-perbuatan yang kita lakukan, segala hal dalam kehidupan memiliki makna dan maksudnya sendiri. Jadi tidak perlu takut perihal memberi karena pada dasarnya kerugian tidak pernah dimiliki hati manusia, kerugian hanya diadaptasi dari ego dan akal picik manusia.

Jadikan semua hal dalam kehidupan ini sebagai alasan bahwa hidup yang sebenarnya adalah berbakti, baik pada orang-orang di sekitar maupun orang-orang yang jauh dari jangkauan. Dengan begitu, kita tidak perlu merasa takut atau merasa khawatir kerugian datang membawa petaka-petaka yang mengaburkan bahagia.

Keselamatan sebenarnya milik semua orang dan pengkhianatan adalah perilaku buruk yang tertuang atas piciknya akal dan keegoisan. Berhentilah memikirkan kepentingan sendiri karena hidup bukan milik pribadi tapi juga milik mereka yang tahu siapa dirinya sendiri.

Selamat merelakan atas segala hal yang Tuhan berikan. Apa yang kita miliki dan kita serap sejatinya bukanlah milik sendiri melainkan Tuhan hanya menitipkan untuk dibagikan kembali pada siapapun yang membutuhkan.

Yogyakarta, 16 Juli 2019


Tidak jarang dari masing-masing kita merasa menjadi seseorang yang paling berpengaruh dan berpengetahuan, merasa bahwa setiap yang melekat pada badan adalah milik sendiri; kepongahan dan kecongkakan sudah menjadi hal yang lumrah dan umum.

Perkiraan kita yang condong pada pengalaman sendiri tidak lebih dari kenaifan tentang bagaimana hidup dijalankan. Segala hal dan aspek yang dikatakan keuntungan oleh masing-masing pribadi distimulasikan sebagai keinginan untuk terus menang. Padahal semua itu tidak lebih dari pemberian, bentuk kasih sayang Tuhan kepada alam dan kehidupan.

Memang pada dasarnya manusia memiliki jalannya masing-masing, namun tidak jarang mereka lupa ketika sudah mencapai seperempat atau setengah dari kehidupannya (perihal bakti dan darma yang harus mereka beri).

Dalam hal membalas dan dibalas, semua orang sama-sama punya kesempatan.

Ahmed Fauzy Hawi

Persoalan hidup dan pengabdian adalah cara Tuhan mengajarkan, sebenarnya apa-apa yang diberikan merupakan bentuk penitipan, sewaktu-waktu bisa diambil tanpa pernah menyebutkan waktu dan masanya.

Hidup adalah implementasi ilmu tentang mengenal Tuhan, berbaur dengan sesama dan menebar kebaikan-kebaikan.

Ilmu yang kita serap pada dasarnya bersumber dari yang memiliki ilmu. Kita sebagai manusia hanya disisipi dan diberkahi belas kasih-Nya.

Ahmed Fauzy Hawi

Ilmu adalah anugerah yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya. Jika tidak disalurkan, manfaatnya tidak akan terasa dan sewaktu-waktu ilmu itu bisa kita lupakan. Sama halnya dengan ini, manusia kadang lupa siapa dirinya sendiri dan siapa yang berhak atas dirinya. Pada akhirnya manusia yang dikatakan sebagai makhluk sempurna tidak lebih dari gumpalan daging yang bisa membusuk.

Ingat-ingatlah bahwa yang abadi adalah Dia yang Esa. Manusia hanyalah seonggok daging, membusuk dan dilupakan.

Yogyakarta, 18 Juli 2019


Apa yang kita pelajari dari kehidupan setelah banyak waktu dipertaruhkan dan usia tak lagi muda? Apa yang seharusnya dipertanyakan pada bentang jalan dan baik buruknya pemikiran? Dan apa yang harus dilakukan untuk kembali pada hidup yang dikatakan benar, menurut ajaran dan perjanjian sebelum dilahirkan?

Senja yang berpulang dan dipeluk malam akan terjaga kembali ketika merah saga memanggilnya. Ini bukanlah bentuk pengkhianatan ataupun pengingkaran, melainkan kewajiban yang harus dijalankan dan proses penuaan disampaikan.

Lautan yang berombak selalu tahu bibir pantai berada, begitupun dengan kehidupan yang harus mendewasakan pemikiran seseorang. Tidak akan pernah ada yang tertukar di dunia ini, baik selalu bermuara pada mereka yang meyakini bahwa hidup adalah karunia-karunia.

Bagi mereka yang sudah mencapai batas dewasanya akan berkata: “Hidup adalah sebuah sesi antara menerima dan menjalankan. Masa depan tidak lebih dari angan-angan, dirancang namun jauh dari kebenaran”. Sedangkan bagi mereka yang labil pemikirannya dan pikun hatinya akan berkata: “Hidup adalah ladang kasar, semak belukar yang harus dibersihkan dan ditanami tumbuh-tumbuhan agar kesulitan tak menghampiri masa depan”.

Manusia selalu percaya, hidup seperti perlombaan yang ditentukan oleh “kalah dan menang” namun lupa percaya tentang bagaimana kemenangan disematkan. Harapan dipupuk dan keinginan ditumpuk, akhirnya mitos diciptakan untuk sekadar menguatkan angan-angan; mimpi dan ketidakpastian. Sepertinya manusia harus kembali belajar dan mengingat-ingat apa yang sebenarnya Tuhan inginkan dan apa yang seharusnya manusia lakukan?!

Selamat berjuang kembali menemukan jalan yang memang benar. Hidup adalah ketentuan-ketentuan yang di dalamnya memuat darma bakti manusia pada alam juga penciptanya. Semoga kita menjadi manusia yang bukan sekadar menyandang nama dan gelar, melainkan juga sebagai pribadi yang percaya bahwa segala sesuatu tidak pernah lepas dari-Nya.

Yogyakarta, 20 Juli 2019


Semoga semuanya baik-baik saja seperti sifat alami hujan, jatuh penuh keharuan setelah kemarau panjang meninggalkan batas waktu menuju peralihan.

Kita akan selalu dibenturkan dengan keadaan-keadaan sulit yang jauh dari kata baik — setidaknya itu menurut pikiran dan cara pandang dalam menafsirkan kejadian — namun cukup benar dari segi kebutuhan, sebab baik belum tentu benar dan apa yang diasumsikan tidak seutuhnya kegagalan maupun penderitaan.

Ada saatnya memang untuk kita belajar, memetik manfaat sehingga apa yang kita percaya kembali dipertanyakan dan dipertimbangkan. Tentu bukan dengan pemikiran melainkan dengan perasaan, karena pemikiran bisa saja menyesatkan sedangkan perasaan sumbernya dari hati.

Letak segala kebenaran ada pada hati. Cukup banyak orang tidak mengerti dan memahami bahwa ada kekuatan besar bersarang di sana namun sukar dijamah apalagi dimiliki, sebab orang-orang tertentu saja yang mengetahui letak kebenaran dalam diri.

Bagi kita manusia adalah makhluk yang sempurna sekaligus penuh kekurangan, namun pemikiran seperti itu hanyalah pemanis kehidupan untuk kita tidak mengkritisi atas apa yang seharusnya terjadi. Coba saja lihat dan ingat-ingat, bukankah banyak pernyataan “Kita lebih baik dari makhluk-makhluk lain, kita adalah makhluk terpilih untuk memimpin bumi, kita mampu berpikir; pengetahuan melimpah; kekuatan untuk berdikari tebilang nyata dan semacamnya.

Namun dari itu semua kita telah gagal bahkan jauh sebelum senja kembali ke peraduan, kita hanya mementingkan diri sendiri tanpa pernah mau mencari tahu kebenaran yang tertanam dalam diri ini. Kita hanya berpikir, “Besok mau melakukan apa, membuat kesuksesan yang seperti apa, dan jauh ke depan seakan-akan segalanya bisa diraih dan terbilang gampang”.

Ilmu, pengetahuan, kedewasaan, dan segala hal yang melekat pada tubuh ini adalah pemberian. Kita kadang lupa menyelami apa dan siapa yang memberi. Seharusnya semuanya itu dijaga sebaik-baiknya, karena tidak ada yang abadi dan yang namanya pemberian setidaknya harus memberikan manfaat, baik bagi diri sendiri maupun yang lain. Tentu saja juga bakti kita bagi Dia, yang mampu dan memiliki segala hal.

Manusia memang cepat belajar tapi tidak pernah mau mencaritahu kebenaran, segalanya ditelan mentah-mentah tanpa (mau) dicerna. Seandainya mau lebih memahami, maka akan kita ketahui bahwa ada cinta dan kekuatan yang begitu besar juga tak terhingga di sana, menjaga dan selalu membantumu.

Yogyakarta, 20 Juli 2019

  • Tulisan sebagian telah dimuat di akun Instagram Ahmed Fauzy Hawi dan Parameteris.

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.