Categories
Kontemplasi

Kita yang Bermusim, Asmara dan Remuk Dada

Semi yang telah melalui kemarau dan penghujan, biarkan ia sampai pada hati yang remuk redam. Menghitung detak dada, membawa bahagia pada sehimpun doa-doa yang berbunga.

Kita yang bermusim, pada asmara dan ganasnya luka / Cinta ibarat hujan yang jatuh / menjelma remuk dada / Membawa bahagia juga getir yang tak kalah beratnya.

– Ahmed Fauzy Hawi

Pertemuan kita saat itu bermula ketika fajar menyingsingkan embun ke pelukan matahari. Isyarat dan bahasa tubuh yang menjelma doa, kala ucapan selamat pagi menyentuh harimu.

Kita adalah dua perlambangan musim yang tak pernah bertemu di satu waktu namun saling melengkapi. Memadu asmara di tengah pancaroba dan melahirkan kisah dari sejarah yang tak disebutkan manusia.

Kita yang bermusim, di tengah gurun waktu dan tumpukan kerikil masa lalu. Perhelatan mencari benar dan baik untuk menghindari kemarau. Asa adalah doa yang lupa berbicara pada usia bahwa hidup tak lebih penting dari tangisan hujan matamu ketika petir menyambar hatimu.

Kita yang Bermusim

Remuk yang Tak Bisa Diredam

“Luka yang tersisa di bulan November jangan biarkan ia semakin meremukkan dada, meredam bahagia yang tersimpul tawanya”

Itu yang kau katakan ketika kepergian sebagai salah satu alasan merelakan meski sebenarnya tak lebih dari pengingkaran yang dijadikan penyelamatan. Luka di bulan Desember, mungkin membuatmu kuat namun merapuhkan segala semoga yang pernah kuhaturkan kepada Tuhan.

Jika setia hanya sebuah sandiwara
baiknya tak pernah kau ikrarkan sebelum
pertemuan kedua kala itu.
Bukankah sudah pernah dan bahkan sangat sering
kutegaskan cinta adalah pengabdian diri
pada rasa yang berserah asa.

Jangan dengan sengaja
kau remukkan dada
yang sakitnya tak bisa diredam logika.

Aku tak setabah bulan
dihimpit mendung dan malam suram.

Yogyakarta, 03 Desember 2019 / Luka Desember


Seringkali pertengkaran hebat terjadi antara kita, entah dengan keegoisan dan rasa membenarkan diri sendiri. Amarah tak lebih dari alibi untuk mempertahankan ketidaktahuan dan ketidakmampuan mengolah logika, kadang kita hanya bisa menyudutkan setiap jawaban yang diberikan. Seharusnya kita sama-sama sadar, perasaan yang tumbuh dan keinginan yang menjelma doa-doa adalah bukti cinta penengahnya. Namun, kita telah kalah oleh ketidakwarasan dan keinginan menang yang akhirnya sama-sama menyakiti; satu dengan yang lain.

Segala yang remuk semakin kau hancurkan dan amarah tak bisa diredam tabah iman masing-masing hati. Mungkin seharusnya diakhiri, hubungan ini laiknya pasang surut lautan namun tak pernah sampai di bibir pantai. Membawa buih dan keinginan untuk menepi. Aku dan kau, satu sejoli yang lupa jalan tengah. Memperbaiki dan melanjutkan masa kini.

“Untuk apa kau mempertahankan cinta, jika hanya untuk menyakiti” di tengah pertengkaran hebat, perang logika dan tumpahnya lahar hati. Kau membaptis diri sendiri sebagai pemenang dan aku kau sudutkan, dibiarkan terkubur bersama kesalahan yang tak bisa dimengerti.

Luka di bulan Desember menjadi bukti, awal bulan penuh emosi. Kita berjarak untuk kesekiankalinya, menepis bahagia yang dulu pernah dijadikan ambisi. Bulir hujan jatuh dari kelopak mata dan mendung kembali bergemuruh dalam dada. Kita tak lagi bisa menempatkan mana yang harus diakhiri dan diperbaiki.

“Seharusnya kita tak pernah bertemu dulu, sayangmu tak lebih dari ambisi masa lalu yang mengejar pelarian cinta. Mencari tempat, ruang teduh untuk beristirahat dari lelahnya kelam kisah dulu. Setelah lelahmu hilang, kau biarkan aku terhimpit sepi dan sesal hati. Seharusnya kita tak pernah sampai pada masa ini, bertukar keringat dan cita-cita untuk sampai ke masa depan” – Kau berhenti berkata, mengusap air mata dan melepas segala kenang, amarah yang kau pendam.

“Kita adalah kegagalan yang tak bisa menemukan kesempatan kedua, biarkan saja Tuhan mengingatkanmu kembali tentang bagaimana dulu kau berjuang, meyakinkanku untuk membuka pintu dan membiarkanmu masuk. Menempati ruang hati sebelum akhirnya aku menyatu bersamamu”.

Cinta kita yang tak bermusim, bukti keringnya dadaku. Hilang angan dan mimpi, tak lagi menjelmamu dalam lautan riak ombak jiwaku. Kini kepercayaan tak lagi bisa ditawar, seakan ia telah seasin air mata. Hujan yang membasahi wajahmu.

Semi yang telah melalui kemarau dan penghujan, biarkan ia sampai pada hati yang remuk redam. Menghitung detak dada, membawa bahagia pada sehimpun doa-doa yang berbunga.

Ahmed Fauzy Hawi

Selamat membaca, kritik dan sarannya ditunggu di kolom kometar ya 🙂

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.