Read Time:4 Minute, 5 Second

Kisah dari Serambi Mekah – Kala itu, seakan-akan Jabal Tsur memberitahu bahwa hidup adalah kembali pada tanah yang suci. Di bawah gunung yang memiliki tiga puncak, saling berdekatan dan menyambung seperti bukti akan datang kabar pilu yang tak bisa dilupakan dalam sejarah kehidupan manusia. Kehampaan dan kengerian yang mengguncang jiwa, meruntuhkan sifat pongah sekaligus ambisi untuk merajai segala. Ia seperti pengingat bahwa hidup bisa saja berbalik dari yang dibangun realitas dan kepercayaan olah pikir manusia.

Seakan-akan kita diberi sebuah pengetahuan dan pembelajaran, bahwa sejarah tidak pernah bisa diubah dan garis takdir tak selamanya berjalan lurus sesuai dengan kekuatan manusia. Ada yang berhak atas segala semesta dan ada yang paling tangguh daripada raja-raja. Kekuasaan dan pengetahuan manusia memiliki batasan. Hidup adalah kembali dan memaafkan diri sendiri yang terkadang lupa mengenali Tuhannya sendiri. Merasa bangga, berdalih bahwa tiada kuasa yang melebihi kekuatannya sendiri.

Kita sebagai manusia terlalu congkak, ceroboh, dan semena-mena. Kita seringkali melupakan ajaran-ajaran lama yang tersemat indah dalam “Kalam” Tuhan yang Esa. Kita tenggelam dan terjerumus pada gulita, digiling ombak, dibenturkan pada terumbu karang, terhanyut dan tenggelam dalam ketakutan. Mungkin kejadian beberapa belas tahun silam adalah teguran sekaligus pengingat bahwa yang berhak atas segala isi semesta adalah Dia yang Tunggal dan Maha Mampu terhadap ciptaan-Nya.

Kita tidak pernah tahu apa yang akan terjadi di masa depan dan kita tak pernah mampu meluruskan jalan takdir yang sudah ditetapkan Tuhan. Kita hanya bisa menerima, menabahkan diri tanpa sekalipun mengkritisi ketentuan-Nya. Pelajaran hidup selalu menjadi ingatan paling kekal, seperti sebuah simposium menggetarkan. Ia terus berteriak, mengingatkan, dan berkumandang. Berbicara lantang tentang ketabahan dan memaafkan atas segala khilaf karena yang tidak pernah benar-benar bisa memaafkan kesalahan adalah diri kita sendiri.

Dari sudut-sudut waktu yang hilang ingatannya, kita kembali mengatakan: “Yang hidup adalah mereka yang diingat dan yang pergi jauh dan tak kembali adalah mereka yang lupa asalnya”.

Ingatan masih melekat
tak terkikis oleh gelombang pantai
dan benturan keras samudra pasang.

Kisah-kisah yang menjadi pelajaran
dan tangisan-tangisan kala itu
menjadi pengingat untuk terus tumbuh
; kuat dan tak terkalahkan.

Kita tentu mengingatnya dengan jelas, setiap tangis dan guratan pilu yang terekam seperti mimpi kemarin. Kita tak pernah bisa melepaskan diri dari bayang-bayang pilu yang begitu menyesakkan. Dalam ingatan mereka, kita mengenalnya sebagai telenovela yang diperagakan bumi dan di atas panggung langit berawan pekat juga kelabu.

Benturan keras dan guncangan berkali-kali. Tepat sebelum senja berpulang, lautan lepas kendali dan menyapu bersih ketabahan-ketabahan yang dipertahankan sejak dini. Doa-doa dan tangisan seakan-akan menjadi satu, getir dan takut serta berpasrah diri karena tidak ada kuasa

Kita mengenangnya sebagai kisah pilu
dan mereka menyebutnya sebagai obat
menguatkan diri dan mendekatkan jiwa pada Ilahi.

Kisah dari serambi mekah yang megah
seakan mencabik-cabik inti bumi
mengeluarkan segala isi perutnya
dan memuntahkan sakitnya.

Sudah banyak waktu berlalu
dan ingatan itu masih menjadi satu
; Haru dan getir karena hidup di ujung nadi

Kita sudah melewati batas usia yang tak lagi muda, begitu pula dengan luka yang saat ini perlahan sembuh dan membuat tangguh. Kejadian 15 tahun silam mengingatkan bahwa segala tawa bisa saja tersapu dan hilang begitu saja, ditelan ombak dan dikembumikan. Ia takkan pernah alpa dari ingatan dan akan hidup meski generasi berganti, menjadi sebuah catatan panjang yang tak pernah selesai kisahnya.

Takkan pernah hilangKejadian yang telah berlalu dan serambi mekah hampir pulih sepenuhnya; kota-kota dan orang-orangnya. Tapi perasaan dan pengalaman takkan pernah hilang dari tubuhnya, seakan-akan seperti menggambar pelangi di awan yang kelabu; air mata masih menggenang di tanahnya dan doa-doa masih berkumandang di sudut-sudut pantainya. Kita tidak akan pernah benar-benar bisa melupakannya. Sebab sampai saat ini, setiap nyawa masih bermunajat, ayat-ayat suci kehidupan dilantunkan, bertasbih segala getir dengan harapan tak terulang kejadian pahit yang melanda negerinya.

jiwa-jiwa yang hidup
tetap menggantung kenang
di puncak langit redup

Air mata menggenang
bumi dengan setianya
bertasbih; menopang
perasaan getir yang tak mau hilang
dan langit mendoakan
hujan badai tak lagi datang
membawa kehilangan dan kematian.

Ayat-ayat suci dikumandangkan
dari bumi yang penuh genangan
air mata, ketakutan, dan kenangan
masing-masing jiwa bertasbih memohon
Tuhan tak lagi memberi cobaan
yang berat dan tak bisa dilupakan.

Di setiap jalan-jalan kota
ada saksi yang membisu
dan ada cerita yang ditangguhkan
: Disimpan rapat dan dijadikan pelajaran

Serambi mekah yang megah
semoga tak lagi menjadi pamrih
segala perih dan pedih
: Mempercayakan segala kepada Tuhan
yang memiliki segala kekuasaan.

Serambi mekah yang berbenah
hari ini mengingatkan
tangguh dan tabah bersamamu.

Tulisan ini bukanlah sebuah kalimat untuk menggurui maupun menghakimi, melainkan sebagai sebuah refleksi. Ingatan yang harus disimpan dan diambil hikmahnya dari kejadian 26 Desember 2004 di Aceh. Di mana kita semua tahu, saat itu ada kejadian yang sukar dilupakan oleh ingatan manusia.

Ini adalah sebuah surat yang ditujukan kepada orang-orang Aceh untuk ketabahan dan kekuatannya. Terima kasih, karena dari mereka kita belajar untuk tidak mengeluh apalagi berhenti berjuang.

Yogyakarta, 26 Desember 2019

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *