Categories
Kontemplasi

Kekurangan dan Kelebihan Tak Perlu Dibandingkan

Kamu tidak perlu membandingkan kekasih maupun pasanganmu, karena hal itu tidak perlu. Setiap kekurangan dan kelebihan yang dimilikinya adalah keuntungan yang tidak bisa kau temukan dalam diri orang lain.

Kehidupan yang kau idam-idamkan adalah apa yang kau percaya, jika kau percaya kegagalan sebagai sebuah cara menuju dewasa maka itulah yang akan kamu terima. Begitupun dengan cara dan sudut pandangmu terhadap dirimu sendiri dan orang lain. Jika kau percaya kelebihan sebagai keuntungan maka kekurangan adalah makna diri yang tak bisa kau terima dengan lapang.

Hidup itu bukan tentang bagaimana kau berjalan tapi tentang bagaimana kamu menerima segala hal, baik kelebihan dan kekurangan. Jadi tidak perlulah membandingkan apapun dengan yang lain. Terima saja segalanya dan jadikan itu sebagai alasan kamu berjalan, mengejar segala mimpi dan mewujudkan harapan.

Contoh kecilnya seperti ini: Kamu merasa bahwa dirimu diselimuti oleh hal-hal yang tak menguntungkan dan kamu percaya akan hal itu. Maka pikiran dan hatimu akan bereaksi, mengolahnya sebagai bentuk diri. Nah pertanyaannya sekarang “Lalu bagaimana merubahnya, menjadikan hal yang kau anggap remeh dan tak menguntungkan itu sebagai kepercayaan diri?”.

Di awal kalimat tulisan ini sebenarnya bisa kau temukan jawabannya. Perumpamaan yang saya pakai untuk merubah cara pandang dan kurang percaya diri. Kalau masih merasa tidak ada relevansinya, maka pikirkan hal ini: “Ketika kamu membandingkan dirimu dengan orang, apa yang kau peroleh dari hal tersebut?” Jawabannya tidak lain dan tidak bukan – bahkan sangat pasti – kekuranganmu yang pertama kali kau bandingkan dan kau pikirkan, sedangkan orang yang kamu jadikan objek dinilai dari kelebihannya.

Sebenarnya hal itu tidak salah dan tidak ada peraturan khusus, apakah kamu berhak untuk membanding-bandingkan atau tidak. Hanya saja ketika kamu melakukan hal yang sudah saya sebutkan, secara tidak langsung kamu mensugestikan pada pikiran dan hatimu untuk menjadi seperti mereka (baca: objek). Kamu enggan menerima kekuranganmu dan cenderung memaksakan diri untuk menjadi yang lain.

Percayalah, setiap orang punya kemampuan dan keahlian masing-masing. Begitu pula dengan kelebihan dan kekurangan. Hanya saja jarang di sadari bahwa kelebihan dan kekurangan itu merupakan keuntungan tersendiri yang tidak dimiliki yang lain.

Saya ucapkan, selamat mengingat-ingat kembali setiap perbandingan yang kamu lakukan. Jangan jadikan hidup seperti perhitungan matematika dan untung rugi karena sejatinya hidup adalah kepercayaan dalam diri; diterima dan dijalani meski dirasa tidak mampu. Teruslah berjalan dan jangan menyerah, karena jika kau berhenti maka saat itulah hidup ini tak lagi berarti: Hidup tapi mati.

Yogyakarta, 02 September 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.