Read Time:3 Minute, 28 Second

Kehidupan dan Perjuangan yang Tak Mudah – Aku tempa sebuah hati dari luka-luka kelam, tangguhkan jiwa dari penyesalan-penyesalan. Semoga Tuhan kembali mengajarkan, bagaimana cara mencintai seseorang dengan benar. Mungkin dengan begitu akan aku dapatkan, kenyataan yang tidak pernah meremukkan masa depan; kekokohan yang bisa dijadikan benteng pertahanan. Sebelum akhirnya memilih berjuang, merumuskan ulang tujuan dan rencana kehidupan.

Segala hal — pelajaran yang gugur laiknya air mata mengembun luka-luka — seakan-akan luruh satu persatu menghantam kedamaian dan kebahagiaan. Engkau … Semoga bukan kendala, datang atas nama keadilan, mendakwaku dalam bayang-bayang tak berkesudahan. Biarkanlah detik ini aku kembali belajar seperti apa mencintai yang benar, merangkum rumus-rumus yang lama kutinggalkan. Dari rajutan doa dan kata, masa lalu (yang banyak orang sebut kenangan) kembali berpetualang.

Bahasa cinta dirahasiakan kehidupan. Datang sebuah pesan, tidak pernah disebutkan tuannya. Doa dalam kata belum genap kalimat dan maknanya. Adakah engkau kembali bermuara, pada sebuah hati menjelma dewa-dewa. Semoga apa yang datang dan yang akan tinggal tidak pernah menyakitkan, menuntut pembalasan atas hidup yang lupa disemogakan seperti masa lalu rontokkan iman di dada.

❤❤❤

Berita-berita disampaikan setiap ada kesempatan. Seumpama teguran, tak jemu-jemunya memperingatkan. Stigma serupa doktrin tentang kewajiban, disebutkan dalam nubuat para moyang dan meresap pada saripati jiwa. Dijadikannya suatu keyakinan dan pedoman untuk melahirkan upaya-upaya (benar baginya dan salah bagi mereka).

Kehidupan yang telah tertinggal jauh di belakang masih menjadi pertanyaan besar, akan mengarah ke mana dan membawa kita pada masa yang seperti apa begitupun dampak yang ditimbulkannya. Bagi sebagian orang dan sejarawan, kehidupan selalu tidak pernah alpa dibicarakan, seakan-akan menjadi pembahasan kekal tak berkesudahan karena bagi mereka selalu ada tantangan dan persoalan baru yang harus dipecahkan.

Menjalani hidup adalah bagaimana caranya bertahan dan terus berjuang. Ketika datang satu masa yang sulit dan mengantarkan kita pada keadaan yang begitu pelik, maka kehidupan laksana ombak badai, membenturkan kita pada karang-karang. Sebaliknya, kehidupan bisa berubah menjadi taman surgawi, membawa kehangatan dan kebahagiaan.

Perjuangan yang sebenarnya bukanlah ketika merasa tersesat atau bukan pula ketika hilang harapan. Melainkan perjuangan itu adalah saat hendak hilang pijakan dan tidak lagi memegang kenyataan namun masih terus berusaha dengan sekuat tenaga, karena perjuangan adalah tidak menyerah pada kondisi dan situasi apapun.

Seperti itulah hidup, akan terus berlanjut meski kadang dada terasa remuk dan kaki tak lagi mampu melangkah. Tapi hidup memberi kesempatan, bagi mereka yang tidak pernah menyerah dan Tuhan selalu punya cara untuk memberi pertolongan atas hal-hal yang dilupakan manusia. Pada dasarnya yang menjadi cita-cita cinta adalah kepercayaan dan penerimaan. Sedangkan persepsi yang keluar atasnya adalah hal yang harus diperjelas sehingga segala kemungkinan bisa dipelajari dan keyakinan bisa diamini.

Jika nanti kau temukan aku, memeluk luka paling dalam. Maka biarkanlah sejenak, sebagai bentuk penyesuaian dan penerimaan. Saat ini aku belajar bersabar dan mengikhlaskan semua hal dari kehidupan, begitu pun tentang kebenaran dan keadaan. Mungkin bagimu ini berat dan menyesakkan karena “kesendirian adalah hal menakutkan” bagi setiap orang. Tapi percayalah, setelah melalui semua perih dan pedih yang melumat hati. Aku akan kembali pada pelukan ternyaman dalam setiap sejarah cintamu.

Saat ini aku sedang menyesuaikan diri dengan pertimbangan-pertimbangan yang kerapkali menghanguskan perjuangan. Laiknya sebuah perhelatan yang butuh persiapan, begitupun denganku. Aku masih terlalu dangkal pikirannya tentang pengharapan, tentang kebersamaan, dan tentang semua hal yang menunggu di depan.

Setidaknya ada jalan menuju tenang yang telah kau persiapkan. Semoga kau mengerti dan memaafkan kelabilan yang sedang aku alami. Semoga kau mengerti dan menerima segala keputusan bahwa hidup adalah kamu yang tidak pernah berhenti mengingatkan tentang beratnya berjuang sendiri, dan tentang kerasnya kehidupan.

Harapan terbesar adalah ketika kamu mampu menenangkan diri dan memilih untuk bersabar; menunggu dewasanya pikiran: aku yang masih diambang batas kekeliruan. Segala hal yang terjadi dan kemungkinan yang tak pernah kupahami adalah tahap belajar menuju tempat ternyaman, hatimu.

Kisah kita adalah perlambangan sebuah yang baru,menjadi tua dan lusuh. Seperti cinta yang terlahir dari ketabahan-ketabahan, membawa duka pergi; air mata tak lagi menjadi hujan yang mendungkan matamu. Semakin lama dan semakin tua usia cinta yang kita bina maka akan dewasa ceritanya, begitu pula dengan pengambilan sikap dan keputusan. Semoga kelak, engkau dijadikan Tuhan untuk menjadi satu-satunya alasan “mengapa aku hidup” tentu selain tujuan awal dilahirkannya manusia.

Yogyakarta, 24 Januari 2019

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *