Jendela Rumah Eyang

0 0
Read Time:3 Minute, 2 Second

Tak perlu disebutkan bagaimana dunia bekerja dan semesta meramalkan segala lara, tentang perpisahan dan kenyataan yang sukar dipahami manusia. Sebab dari masing-masing kita adalah penjelmaan air mata, mengalir dari rona mata dan sesekali menjadi sepasang semoga. Tabah dan bersikap pasrah, pada bumi ia kembali.

Rumah penuh sejarah itu telah ditinggalkan pemiliknya. Beberapa pekan yang lalu iring-iringan doa mengantarkan kepergiannya dengan haru dan deru. Pada setiap tapak jejak langkahnya, air mata jatuh membasuh kenang. Dari trotoar jalan kulihat bunga-bunga menjelma luka dan sedikit penyesalan bagi yang ditinggalkan. Sedangkan wanginya entah lari ke mana, mungkin disembunyikan di bawah kolong meja. Tempat biasa ia melihat dunia dari bilik jendela tua yang warna catnya hampir seusia musim semi.

Masih di posisi yang sama, kulihat jalan itu menuju kedamaian. Di mana takkan ada lagi penderitaan atas ketidakmampuan manusia menafsirkan kekalutan. Di atas kepala setiap orang, kunang-kunang menari seperti sekelompok tokoh sufi. Berdzikir dan bertasbih:

Seorang anak manusia kembali, pada bumi ia disemayamkan. Cinta dan segala urusan yang belum sempat dituntaskan, semoga diganti dengan keikhlasan dan ketabahan-ketabahan. Pada semesta ia menitipkan kekurangan dan pada Tuhan ia menyeru kesempurnaan.


Nak, kelak setelah masa lalu datang menggempur ingatanmu. Biarkanlah aku menjelma doa yang teguh dan tabah. Setidaknya sebagai pengingat, bahwa segala yang diciptkan akan hilang, dikenang dan dilupakan kemudian menuju peradaban. Abadi di sisi-Nya.

Hujan yang hampir seharian mengguyur seakan-akan menjadi salah satu bukti sekaligus isyarat yang diberikan Tuhan kepada keluarga Eyang. Bahwa di waktu sore saat senja akan berpulang, perpisahan menjadi hal yang harus direlakan. Tak perlu ada penyesalan karena sudah digariskan sebelumnya. Yang hidup akan kembali pada-Nya dan yang diciptkan harus kembali menyatu pada asalnya.

Di langit, kita menitipkan doa
dan pada sepasang matamu yang luka
air mata menjelma semoga. Membasuh segala
yang tak lagi mampu diucapkan kata-kata.

Bukankah kita pernah berikrar
pada semesta ketidaktahuan diserahkan
dan untuk urusan kebodohan maupun keegoisan
kita hanya perlu percaya. Tuhan telah memutuskan
jauh sebelum semuanya diciptakan.

Tepat pukul 16.30 WIB matahari menukik tajam dan sungging senyum yang biasanya merekah perlahan berubah. Kabar dari semesta mengatakan dan menegaskan:

Telah berpulang, salah satu anakku yang tabah dan pasrah di usianya yang belia. Pun memiliki banyak keegoisan dan tidak jarang bersikap bodoh di waktu muda. Tapi setelah masa tua, ia merangkul banyak cerita dari bilik jendela rumahnya untuk sekadar mensyukuri yang Kupunya. Jadi biarkanlah lapang yang ditinggalkan dan berikan sedikit cerita bahagia dalam catatan terakhirnya. Sehingga kelak, ketika waktu perjumpaan tiba tak lagi ada caci maki; saling menggerutu dan sifat kekanak-kanakan.

Beberapa tetangga di samping rumahnya membawa banyak salam dan tak sedikit yang menabur kebijaksanaan, seakan-akan waktu dan kejadian serupa takkan pernah menghampiri mereka. Aku lihat, di pojok depan pintu rumah seorang perempuan tengah menggendong anaknya. Ia sesenggukan, wajahnya pucat pasi dan dadanya bergermuruh seakan-akan tak percaya. Perpisahan terjadi begitu saja.

Salah satu orang mendekat menyalaminya “Mbak, semoga Almarhum diberikan tempat yang jauh lebih layak dan segala amalnya diterima”.

Orang yang menyalami tadi kemudian pergi, aku yang melihat kejadian itu ingin sekali mengatakan tapi aku urungkan karena tidak sopan dan seakan-akan tidak pantas. Bagaimana tidak, coba pikirkan saja:

Orang yang hidup hampir setengah abad dan sudah hampir mengenal dirinya sendiri sudah dipastikan diterima amalnya dan Tuhan tetap memberikan tempat yang layak. Bukan hanya untuknya tapi untuk seluruh manusia.

Terkadang, sifat kita ini begitu naif dan berpura-pura peduli. Padahal jika dipikirkan lagi, hal seperti itu tidak dibutuhkan. Bukankah sudah menjadi sifat manusia untuk diperhatikan sekaligus diperhitungkan?

Aku sedikit tersenyum, ternyata kepulangan yang banyak ditakutkan dan dikhawatirkan tidak semenyedihkan ini. Terlebih, orang-orang terkasih sudah mengantarkan. Membiarkanku kembali, pada bumi dan Tuhanku.

Yogyakarta, 03 Desember 2020

About Post Author

Achmad Fauzy Hawi

Terlahir dengan nama Achmad Fauzy Hawi, biasa dipanggil Fauzy atau Ozi, anak kedua dari tiga bersaudara yang saat ini sedang menempuh pendidikan di Yogyakarta. Sehari-hari senang berleha-lehe, sesekali membaca buku dan sangat jarang menulis puisi.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
100 %
Sleepy
Sleepy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Kembali ke atas