Read Time:2 Minute, 55 Second

Jalan Lain Kaum Difabel – Dua buah puisi di bawah ini (sebut saja sebagai ilusterasi) yang diambil dari buah pikir seorang tokoh dan penulis. Menceritakan kembali wajah pendidikan kita, mengingatkan bahwa sejarah terkadang tidak utuh dan cerita-cerita di atas sebuah kertas berbentuk teks tak lebih dari propaganda, diusung untuk mensejahterakan bebepa golongan.

Bagaimana rupa pendidikan kita? Masihkah tercermin seperti masa Kolonialisme, Orde Baru, maupun masa-masa di mana dianggap kebebasan dan hak semua orang terjamin? Coba ingat-ingat lagi pelajaran sekolah tentang sebuah sejarah panjang negeri ini? Apakah pernah diceritakan bagaimana orang-orang kelas bawah mensejahterakan dirinya dengan melepaskan diri dari penjajahan?

Kita lihat kembali masa-masa di mana kesusastraan Indonesia (sejarah dan perkembangannya) mulai dari generasi Balai Pustaka, Pujangga Baru, Gelanggang atau yang biasa disebut dengan Angkatan ‘45 dan Angakatan setelahnya sampai sekarang. Hampir keseluruhan didorong karena sebuah ideologi dan pemangku kekuasaan yang ingin melanggengkan diri dengan menjadikan sastra sebagai propaganda.

Coba ingat-ingat kembali bagaimana sejarah sastra diperkenalkan di sekolah, ia tak lebih dari fiktif yang meninggalkan kritisismenya; membiarkan orang-orang merasa nyaman.

Ketika memperdalam sebuah pengetahuan tentang sebuah sejarah, maka akan ditemukan sedikit gambaran (hipotesis) bahwa sejarah tak lebih dari telenovela yang diceritakan dengan lugas dan nyaman, banyak fakta yang belum diungkapkan di masa dulu dan (mungkin) akan tetap terkubur dalam di bawah kekuasaan.

Mungkin kata-kata dari seorang diktator Nazi ini bisa memberikan pengertian:

Dengan penggunaan yang terampil dan berkelanjutan, seseorang dapat membuat orang lain melihat surga sebagai neraka atau kehidupan yang sangat menyedihkan sebagai surga – [Adolf Hitler]

Kebohongan yang konsisten disampaikan oleh penguasa secara berulang-ulang akan menjadi kebenaran – [Adolf Hitler]

Jalan Lain Masour Fakih

Jalan Lain[1], diwartakan Dr. Mansour Fakih
Manifesto yang berlisan tanpa ajaran
Pada masa silam. Seribu tahun jika ingatan tak salah

“Sudah lama kita menyaksikan kejadian[2]” yang begitu haru
di tengah pertumbuhan masa remaja
bagai gugusan bintang-bintang
Jatuh terinjak-injak dan terkubur
: dikebumikan lalu dilupakan

“Sistem sosial dan budaya yang tengah kita dirikan
Roboh berjatuhan tak sanggup menyangga beban[3]”

Beban yang begitu berat dan tak sanggup ditanggung akal
Mengejewantahkan logika dan iman
Serupa mayat-mayat bergelantugan
dipenggal di rumah jagal
lalu dibagikan pada anjing liar
yang tengah asyik kencing sambil menertawakan kebebasan
: Sosialisme kadang di salah pahami

Panggil Saja Kami Kaum Difabel

Kadang mereka memanggil kami sebagai tuan yang gagal
Dalam kehidupan baik kepercayaan maupun kesejahteraan
Seakan-akan mereka menentang penuh benar
Mewahyukan diri sebagai utusan
Di atas mimbar penuh kekuasaan yang dibanggakan

Kiri adalah persoalan dan kanan adalah jawaban benar
Seandainya dipahami, sudut pandang bukanlah kebenaran
Melainkan pemaknaan untuk diselaraskan
Mereka memangil kami sebagai penyakitan
Menggerogoti teori-teori dasar pengetahuan

Katanya proses adalah menuju pembelajaran
Tapi bagi mereka ini adalah sebuah penistaan
Mengkambinghitamkan ajaran dan kepercayaan
Lalu dengan sengaja mengkafirkan Tuhan lain
Dengan dalih iman dan ketaqwaan

Mereka bilang, ini adalah sebuah paham yang tak pernah padam
Sebagian dari mereka mengganjar dirinya sebagai pendidik alternatif
Melihat kebenaran tapi tertutup busuk dan picik logikanya sendiri

Mari kita kembali membuka sebagian sejarah
Yang dijadikan kurikulum dalam sekolah
Adakah sejarah penuh kebenaran atau
Hanya delusi untuk membenarkan pemerintahan?

Mari kita kembali buka altar masing-masing persembahan
Yang dibawa malaikat dan 12 rasul Kristus
Adakah sejarah memihak rakyatnya atau
Katakan saja hal paling sederhana menyoal hak anak atas pendidikan?

Jika masih kurang, cobalah mengingat kepercayaan
Dan ideologi masing-masing yang dipertahankan?
Kembali belajar dan menerjemahkan apa yang benar
Lalu pertanyaan tentang kemanusiaan
Pernahkah terpikir selain kemenangan satu bagian atau golongan?
Lantas masih pantaskah memanggil kami sebagai kaum penyakitan
Tak bermental dan tak mengenal kepribadian?

Catatan Kaki:

  1. Jalan Lain adalah sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Mansour Fakih. Buku ini mengangkat tema tentang pendidikan
  2. Diambil dari kutipan buku Jalan Lain, Hal. V dalam prolog bukunya
  3. Ibid

Yogyakarta, 18 Januari 2020

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *