Read Time:1 Minute, 49 Second

Hiduplah Seperti Apapun, Sebab Cinta Penengahnya – Hiduplah seperti apapun tapi ketika pola pikir membatasi pergerakan dan keutuhan, maka sudah bisa dipastikan hidup akan terasa lebih berat dan membebani diri. Pada dasarnya, semua hal yang dibawa oleh cinta adalah keindahan. Apabila ada orang yang merasa dikecewakan dan dikhianati, semata-mata itu karena ego dan kelalaiannya sebagai manusia.

Cinta dalam kedudukannya tidak pernah berkhianat dan apabila ada orang yang merasa dikhianati, harus dipahami terlebih dahulu “apakah dulu, kita pernah mengingkari sebuah janji” karena yang namanya cinta tidak hanya berhenti di satu kisah, maka ingat-ingat kembali kedudukanmu sebagai manusia dan seperti apa kamu memahami cinta itu.

Ruh yang ada dalam pemahaman, keadaan untuk berjuang dan mengabdi adalah salah satu cara Tuhan menjelaskan setiap kekurangan. Jika nanti pada satu kesempatan kau datang membawa cinta yang lain selain cintamu pada apa yang diabdikan, maka hal tersebut harus dipertanyakan:

Sebelum tiba saatnya, pengucapan dan pengambilan ikrar yang disebut sumpah setia. Hidup dan apa yang kau perjuangkan adalah salah satunya alasan kembali. Jika merasa bingung dan khawatir tentang banyak keadaan dan kenyataan maka hiduplah seperti apapun sebab cinta adalah penengah segalanya.

Kebenaran adalah mutlak atas nama keadilan dan ketakutan adalah hal yang wajar bagi kemawasan. Tentu dalam rumus kehidupan “yang lemah akan kalah dengan yang kuat” akan tetapi hal terpenting dari sebuah kehidupan adalah dengan tidak pernah berhenti bertanya.

Cinta sebatas (tidak lebih dan kurang) simbolisasi sakral tak bertuan ketika jiwa berpaling penuh kesadaran, seperti halnya hati dan pikiran yang berjalan selaras, seperti itulah seharusnya cinta dinobatkan. Dikurun waktu yang lama bagi sebagian orang dan begitu cepat berlalu bagi sedikit orang, hidup dan cinta kadang bertentangan. Kedudukannya tidak pernah bisa sejajar dan keutuhannya tidak bisa dibandingkan. Namun selalu cinta yang menjadi penengahnya atas apa yang disebut kelalaian dan kekhilafan.

Setidaknya, biarkan hangat menjadi penyelamat. Sebelum akhirnya rindu seperti kiamat, mungkin salah satu cara bersahabat adalah dengan tidak pernah berkhianat.

Jadilah penengah dari segala kekurangan dan kelabilan seperti cinta yang selalu berperan dengan baik dan benar. Selaiknya rasa yang bersemayam, tidak mudah terusik dan terganggu oleh keadaan dan fakta-fakta yang dibawa semesta untuk menguji ketabahan dan penerimaan.

Tulisan ini lanjutan dari tulisan dengan judul “Berjuang dan Bertahan, Sebuah Rumus Kehidupan“

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *