Read Time:1 Minute, 36 Second

Fakta yang Tak Pernah Disebutkan – Ada sebuah fakta yang tidak pernah disebutkan kehidupan pada kita semua, yaitu bagaimana semesta merelakan ketabahan dan kedewasaannya. Rasa yang terkandung dalam jiwa seperti arsip tua. Sewaktu-waktu ia diam tanpa sepatah doa, dan pada satu waktu yang langka ia akan berkhotbah laksana pujangga yang berhasil menemukan puisi cintanya.

Pada sebuah pasal, dikatakan dalam ayat-ayat yang tak banyak orang pahami. Cinta serupa dentum jantung, bergemuruh namun tak mengundang pasang. Selamanya diam tenang, meski gejolak datang bergantian. Dalam damai yang tak begitu banyak dipahami, cinta masih utuh dalam serupa perjalanan menuju tempat paling aman dan nyaman sebuah jiwa. Hidup bersama keselarasan pengetahuan. Ada sebuah fakta yang tidak pernah disebutkan, dibagikan, dan dijelaskan sebab kenyataan tidak selalu bisa dirasakan dan diketahui kedudukannya seperti satu rumus kecil yang tidak banyak orang ketahui:

Cinta tidak membawa derita, yang ia bawa adalah bahagia.

Cinta selalu tahu tempatnya dan tidak akan pernah keliru harus bertamu kepada siapa. Pun jika ada kesalahan, semata-mata adalah kegagalan kita sebagai manusia dalam memahami. Tapi tidak jarang kebanyakan orang pura-pura mengerti, bersikap simpati dan menerima sebuah kesan yang sebenarnya bukan getar kebenaran.

Akhirnya mereka memupuk kepercayaan dengan pengetahuannya, berfatwa bahwa yang mereka pahami adalah kebenaran sejati dan segala aspek yang keluar dari orang lain menjadi kesalahan utuh atas perbuatannya sendiri. Jika memang hidup adalah perjalanan menuju dewasa, sudah seharusnya dewasa diraihnya tanpa pernah membuat stigma yang bisa disalahartikan kehidupan.

Hal ini banyak terjadi tetapi sukar disadari sebab hidup menurut kepercayaan adalah cinta yang bisa berganti musim — kemarau, hujan, semi, dan dingin — bukan sifat yang menjadi satu dengan kehidupan dan kewarasan. Mungkin yang harus ditekankan dan diingat kembali adalah: Kita hanya perlu berlayar, kembali ke peraduan dan merelakan segala kepedihan. Mungkin, di haluan kapal menuju selat antara kebahagiaan dan kesengsaraan akan ditemukan kata damai.

Seperti tulisan sebelumnya yang berjudul: “Hiduplah Seperti Apapun, Sebab Cinta Penengahnya” adalah lanjutan dari seri tulisan Menuju Tempat Paling Damai dan Aman

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *