Read Time:2 Minute, 31 Second

Ahmed Fauzy Hawi, Fajar Jatuh Menjelma Embun – Dua puisi di bawah ini ditulis pada tahun 2015 dan telah mengalami beberapa perubahan, baik dari segi isi maupun diksi. Harapan terbesarnya adalah, pembaca tidak berfokus pada jelek atau bagusnya kumpulan puisi ini, melainkan isi yang terkandung di dalamanya.

Kritik dan saran akan sangat diterima, karena saya percaya bahwa berkarya selalu butuh proses dan belajar selalu ada yang mendidiknya.

Fajar Jatuh Menjelma Embun Cinta

Menjemput bahagia
dari pilu dan duka lara
Jauh di sana, terngiang suaramu
tak terjamah waktu
dan rindu satu-satunya penentu
antara doa dan harapan-harapan.

Ada sebuah pertemuan
tidak dijanjikan apalagi disebutkan
dalam sejarah kehidupan.
Setia adalah doa-doa
biarkan cinta menjelma fakta
dan rindu adalah upaya yang lupa
diamini masing-masing kita.

Jika nanti telah sampai
semoga Tuhan menempatkan
Satu waktu yang tidak bisa digugat
silamnya kenang maupun kepedihan.

Mengenang wajahmu
sebelum subuh memberitahu
bahwa sepertiga malam laksana fajar
jatuh pada setangkup tanganmu
menjelma embun-embun cinta.

Cinta dan rindu; seluruh rasa
dalam dada adalah kamu
Terangkai tak pernah sampai
dalam pelukan dan kenyataan hidup.

Sampai nanti Tuhan menyebutkan
kau dan aku menjadi satu
tanpa perlu merasa takut
akan kehilangan dan kematian.

Puisi di atas ini sebelumnya berjudul “Dalam Dadaku, Kamu” ditulis pada tahun 2015.

Tuhanlah Alasan Cintamu Datang

/1/
Sebelum perpisahan datang
atas ketabahan-ketabahan.
Setidaknya biarkan Tuhan menyebutkan
sejarah cinta dan harapan
sebagai salah satu cara merelakan.

Segala bentuk rasamu
kekal dan tak tergantikan
Biarpun engkau telah menyeberangi batas
dunia, menuju haribaan-Nya.

Di sini, biarkan segalanya bergemuruh
dan gersang dadaku menjadi bukti
cita-cita cinta tak sampai padaku.

Laiknya pengharapan
jauh dari ekspektasi akal.
Rindu setelah kepulangan
adalah alasan terus mendoakan
cintamu yang utuh dan rasaku yang terus tumbuh
bukti atas apa yang pernah kusebutkan seluruh.

Aku dan cintamu, satu fakta
bentuk kerelaan yang (sebenarnya) tak sanggup merelakan.
Sebab perpisahan begitu sukar
diterima pengetahuan maupun kesadaran manusia.

Kita, adalah segala rasa
yang hidup di masa depan
namun lupa masa sekarang.

Selamat jalan, semoga tabahku tak sirna
ditelan kepedihan dan kebencian.

/2/

Jika memang tiadamu datang
semoga aku termasuk orang yang kuat
mempertahankan keyakinan
dan ketabahan-ketabahan.

Jika memang kepergian
disuratkan Tuhan dan kehidupan
Semoga aku sanggup melanjutkan
meneruskan hidup yang berat dan terjal.

Cintamu, segala kenang yang hidup
di masa silam dan masa depan.
Jadikan aku, setangguh Pandawa
dalam cerita Mahabarata.

Mengukir cita-cita
di atas nisanmu tanpa melupakan
cinta dan kamu satu-satunya alasan
mengapa Tuhan mempertemukan
meski tak bisa dipersatukan.

Setidaknya aku terus belajar
dari pengalaman yang kau berikan.
Setidaknya aku tetap teguh melanjutkan
meski hidup tak semudah yang dibayangkan.

Cinta dan kamu, telah mengajaran
hidup takkan berhenti meski cinta
tak bisa dipeluk mesra asmara.

Sampai bertemu kemudian
di kehidupan yang lanjut usianya
ketika sirna segala kefanaan.

Sampai bertemu kemudian
cinta tak perlu disebutkan
bertandang atau hanya sebatas singgahan.

Aku, yang mencintamu dalam setiap helaan
tak pernah risau dan ketakutan
sebab Tuhan satu-satunya alasan cintamu datang.

Naskah asli dari puisi “Tuhanlah Alasan Cintamu Datang” semula berjudul “Harapku di Sela Nadimu” ditulis pada 21 September 2015.

0 0

About Post Author

Ahmed Fauzy Hawi

Mahasiswa jurusan Manajemen (kompetensi bidang Pemasaran, dan Manajemen Operasional) di Universitas Cokroaminoto dan konten kreator. Saat ini sedang bekerja di PT. Renjana Indonesia, Indie Book Corner, Orbit Indonesia, dan Toko Buku Indie.
Happy
Happy
0 %
Sad
Sad
0 %
Excited
Excited
0 %
Sleppy
Sleppy
0 %
Angry
Angry
0 %
Surprise
Surprise
0 %

Average Rating

5 Star
0%
4 Star
0%
3 Star
0%
2 Star
0%
1 Star
0%

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *