Categories
Puisi

Cintamu Ruang Masa Depan dan Puisi Lainnya

Cintamu Ruang Masa Depan adalah puisi yang sebelumya ditulis di Tumblr, Facebook dan Google Doc. Semoga puisi-puisi berikut ini bisa memberikan inspirasi.

Menjelmamu

Biarkan saja hidup menjelmamu
mengajarkan sebuah kenang
untuk kau tanam dalam ingatan.

Biarkan saja hidup menjadikanmu
lagu-lagu penguat sebuah perjalanan
banyak orang yang kau temukan.

Hidup dan kamu adalah dua simbolisasi
makna yang melekat dan terurai
dalam tubuh juga stigma baik benar.

Biarkan saja hidup
terus berlanjut, memperpanjang mimpi
dan angan.
Dengannya akan kau temukan
notasi yang memperindah
nyanyian musim. Menjelma waktu
pada sebuah instrumen.

Yogyakarta, 21 Oktober 2019

Ditangisi, Dikasihani

Keinginan yang begitu kencang
berlari, mengejar jejak mimpi.
Upaya dan doa terus diamini
tanpa henti. Seakan-akan tak pernah
mengenal kapan harus berhenti
dan waktu mati.

Masa depan ambang batas
waktu yang tak lagi berbekas
mimpi adalah ilusi, bunga tidur
untuk mengusir mimpi buruk.

Kita pernah sama-sama membuat resolusi
ekspektasi dibangun di atas altar
yang sebenarnya persembahan
mempersiapkan tumbal.

Lirih penyair yang murung
bukti lesau hati berbadai.
Di waktu dan masa kini
kita tak lebih dari ambisi
lupa caranya mewujudkan
sucinya sebuah kasih
Mimpi masa depan
tak lebih dari sekadar ratapan
Ditangisi dan dikasihani.

Yogyakarta, 22 Oktober 2019

Memeluk Kematian

Senja kala tubuhmu
aroma cinta kehidupan.
Dari rahim puisi ia terlahir
membawa rasa dan karsa
sebuah mimpi untuk masa depan
tak pasti; jauh dari rencana.

Ekspektasi yang kau bangun
dan resolusi yang kurancang
tak lebih dari arogansi makhluk hidup
yang mendahului takdir Sang Gusti.

Di ribuan doa yang melangit
Kan kau temukan aku terpuruk
lebih dulu. Jauh sebelum
ayat-ayat sampai di Arsy Tuhan
aku menangis sejadi-jadi
Bersedu sedan dan berseru kepada alam:

“Cinta tak lebih dari penggalian
kubur para pendusta. Ia menenggelamkan
setiap rasa yang berlayar.
Menujumu ia tak sampai”.

Senja kala waktu itu
Memerah saga wajahmu
sebelum akhirnya, terpuruk dan kaku
Memeluk kematian.

Yogyakarta, 23 Oktober 2019

Di Seberang Kotamu

Di seberang kotamu
Aku menerjemahkan bahasa tubuh
para pencari mimpi, bertemu dan bertamu
pada harap yang tak mereka kenal.

Di seberang selasar langit kotamu
Aku bermimpi, menemukan cinta
di pangkuan kasihmu.
Dari harapan masa lalu yang tak mudah
bagiku, aku menggantung cita dan karsa
pada aroma tanah halaman rumahmu.

Bertemu denganmu dan kemudian bertamu
teduh wajahmu kala itu
mengundangku, menujumu
laksana perjalanan panjang
penuh bunga-bunga.

Di selasar rumahmu
aku, temukan cinta dan asa
Tumbuh dan terawat
denganmu, mungkin masa depan
tak perlu diperhitungkan
dan masa kini adalah upaya
doa, abadi bersamamu.

Yogyakarta, 23 Oktober 2019

Cintamu Ruang Masa Depan

Jauh di depan sana
bahagia kau bina
tanpa sekali pun menakar sebuah luka
masa lalu yang telah menggerogoti
tabah di dada.

Cintamu, ruang masa
yang banyak warna bahagianya
sedangkan silamnya luka tak lebih
dari peralihan menuntaskan asa dan doa.

Cintamu, ruang di masa depan
harapan dan perjuangan
yang tak pernah sekali pun
kau tegur silamnya kenangan
yang pernah membuatmu bahagia;
tersenyum dan tertawa.

Yogyakarta, 06 November 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.