Categories
Kontemplasi

Bertemu dan Bertamu

Bertemu denganmu adalah sebuah hal yang tak bisa diumpamakan. Jauh sebelum pertemuan bermuara, hatiku telah bertamu lebih dulu pada hidupmu.

Apakah kita akan bersama setelah masa sulit ini selesai? Ujarmu waktu itu di suatu malam yang hujan

Aku tidak akan menyalahkan keadaan sebab kita adalah bagian darinya. Perihal gejolak yang sampai saat ini membuat kita saling bertentangan, tak lebih dari kenyataan yang harus diselesaikan. Bukankah masa depan yang kau katakan dan kau takutkan itu hanya lahir atas asumsi buah pikir, pengetahuan yang selama ini kau percaya? Lantas, percayakah kau pada cinta yang kupupuk tumbuh sampai detik ini? Perjuangan dan pengorbanan untuk terus bersamamu?

Hujan yang sempat menggenang di jalan yang kita tapaki adalah bukti kemarau berlalu dan badai yang mengiringinya seperti ujian untuk kita lewati bersama. Itu adalah proses yang perlu diselesaikan dan dituntaskan.

Selama ini kita telah berjalan cukup jauh, banyak rintangan yang telah dilalui. Masih kurangkah kepercayaanmu, setidaknya buang jauh-jauh keraguan dari setan-setan itu. Sudah cukup waktu untuk bersikap labil, tangguhkan jiwamu dan kuatkan aku seperti dahulu di awal pertemuan. Memang tidak bisa dipungkiri, seiring berjalannya waktu kisah ini mengalami pasang surut namun bukan berarti badai tak berhenti dan ombak tak bisa tenang.

Setelah semua masa lalu dituangkan, menjadi hadiah nobel kepiluan. Semoga tak ada lagi perkara maupun ihwal yang menyudutkan perasaan. Penyesalan dan kekhawatirkan tak perlu dipusingkan – Tuturku kala musim berganti.

Ternyata banyak hal mudah dibicarakan namun begitu sulit untuk dilaksanakan. Balasmu kala senja merekah di langit, di seberang pelabuhan Namun kau tahu? Banyak hal sulit begitu mudah dilalui ketika bersama, dan cinta selalu jadi penengahnya. Saat ini, aku berterima kasih kepada keadaan yang telah memberikan fakta mengejutkan. Bertemu denganmu di toko buku setahun lalu.

Masa lalu kadang memang suka begitu, mengoyak-ngoyak isi hati. Membenturkan dengan kisah silam yang begitu apik, penuh gelak tawa. Meski cinta selalu jadi penengahnya bukan berarti tak ada kesalahpahaman, selalu saja cinta seperti fakta datangnya. Membawa luka bersama cerianya.

Yogyakarta, 23 Oktober 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.