Categories
Kontemplasi

Apa yang Kau Sebut Bahagia

Bahagia adalah sebuah definisi yang diyakini oleh masing-masing kita, lalu apa yang kau sebut kebahagiaan itu? Adakah ia sama seperti apa yang kuutarakan pada masa depan tentang hari ini?

Cinta tak banyak dipahami oleh masing-masing kita, hanya sebuah rasa terkandung dalam dada menjadi dasar bahwa hidup tak lebih dari propaganda dan piciknya logika. Kadang kita ingin menuntaskan segala perih yang merongrong dada, namun alibi selalu mendahuluinya. Alasan etis dan tidaknya menghambat apa yang kita sebut rasional. Bukankah seharusnya kita sama-sama belajar memahami, bahwa cinta adalah kamu dan utuh itu rasaku. Memelukmu seluruhnya.

Jauh sebelum pertemuan ini bermuara, kita sama-sama berangkat dari usangnya sebuah jalan; pilu dan kecewa pernah dirasakan; luka dan rongrong dada, sesakkan asa adalah upaya yang disembuhkan dengan harapan masa depan tak begitu sukar diterima.

Apa yang kau sebut bahagia tak lebih dari prasangka-prasangka yang belum tuntas diterima. Sering kali kau menfatwakan bahwa segala yang ada adalah upaya dan usaha yang sebenarnya kelalailan pengetahuan dan pengalaman.

Aku tak ingin mendefinisikan seperti apa bahagia karena masing-masing orang memiliki arti dan penafsirannya sendiri, memiliki hak untuk menerima atau menolak pengertian yang dibuat oleh khalayak. Jika terpaksa kusampaikan, maka belum tentu bahagiaku dan bahagiamu sama.

Apa yang kau sebut bahagia adalah aku yang tertawa dan bagiku bahagia tak lebih dari hasil jerih payah pengabdian. Jika nanti kau temukan bahagia selain dariku, mungkin memang begitulah jalan hidup yang harus dipahami dan diterima, oleh dirimu dan hatimu.

Cinta adalah interpretasi tentang sebuah makna halus dalam jiwamu, ketika ia tenggelam dalam maka aku menyebutmu sebagai seluruh rasaku; perih sedih, gelak tawa, simpul senyum yang merona bahagianya.

Semoga kelak definisi dan makna dari kehidupan tak lebih dari asumsi belaka sehingga kita tak harus bertolak belakang perihal arti bagaimana cinta harus ditunaikan dan seperti apa bahagia diterima oleh akal dan pengetahuan kita. Semoga saja cinta itu tetap aku dan bahagia adalah seluruh hal yang menautkan hidupmu dan hidupku.

Yogyakarta, 06 November 2019

By Ahmed Fauzy Hawi

The second child of the romantic couple, Sahawi and Saniah | Writing poetry | Studied at the University of Cokroaminoto Yogyakarta, majoring in management with the consenation of human resources management.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.