18 Februari 2020

Menabahkan Segala Semoga
Menabahkan Segala Semoga - Semoga sampai, salam dan perasaan yang tak bisa dihaturkan ucapan ini. Tanpa tata bicara dan tatap muka, semoga kelak segala doa yang melambung tinggi jatuh di tangan semesta. Impian dan cinta yang tak terucap, semoga kembali diingat oleh ingatan yang mulai tua. Salam ini kuhaturkan kepadamu yang senantiasa menabahkan rasa dari segala perkara.
Kasih sayang orang tua
Menabahkan Segala Semoga
Terima kasih yang tak bisa kuukur, dari tempat pertama kali mengenal dunia dan darimu pula semesta mengajarkan bahwa hidup tak pernah berhenti di satu titik. Ia akan tetap berjalan mengikuti garis lurus yang terkadang berkelok-kelok – dan untuk ibuku, terima kasih telah mengajarkan bagaimana seharusnya cinta ditabahkan dan jiwa-jiwa yang rapuh ditangguhkan.
Kelak, kehidupan akan memberitahu bahwa ada sosok tangguh yang tak disebutkan dalam buku sejarah. Ia cukup tabah dan penuh cinta kasih, darinya akan dipetik pelajaran tentang hidup yang sukar diterima akal dan perasaan.
Sudah setengah abad usiamu dan aku masih seperti ini, menjadi seorang anak mungil yang selalu asyik dengan masa mudanya; belum mampu memberikan sesuatu yang dianggap oleh orang-orang disebut sebagai kesuksesan dan keberhasilan. Terlebih dengan perjalanan jauh dari seberang pulau menuju kota yang megah ini - banyak yang beranggapan terlalu sukar keberhasilan diraih.

Jika kembali mengenang dan mengingat-ingat, masa silam di mana tetes keringat membasuh tubuh dan perjuangan yang tak pernah berhenti. Ingin rasanya berhenti sejenak dan meringankan bebanmu, menghentikan waktu untuk tidak memperlakukanmu begitu keras.

Namun aku tidak perlu menyalahkan keadaan dan kenyataan bahwa keterbatasan lahir dari keluarga ini. Di mana hidup dengan kekurangan jika dibandingkan dengan kebanyakan orang. Tapi, dari kecil aku selalu diajarkan untuk tidak membanding-bandingkan sesuatu; membenturkan diri pada satu fakta yang sebenarnya bisa diraih.

Pun sudah dari sejak dini dunia mengajarkan padaku melalui dirimu, sosok tangguh yang tak pernah mengeluh dan hanya menjalani hidup seperti apa yang dibisanya. Kesederhanaan dan penuh lapang dada, menerima nasib dan takdir.

Mungkin Ayah dan Ibuku tidak akan membaca tulisan ini, kecuali diberitahu (diceritakan) oleh kedua saudaraku atau oleh sanak keluarga yang lain. Tapi tidak mengapa, karena poros hidup tidak sebentar berputarnya. Ia akan tetap mengitari ruang-ruang dalam jiwa. Pun jika kedua saudaraku tidak menceritakannya tidak akan jadi soal, siapa tahu Tuhan menyampaikan salam ini dengan cara yang tidak pernah bisa dimengerti oleh logika maupun akal manusia.
Biasanya, aku akan bertanya beberapa hal tentang hidup yang tak bisa dimengerti. Tentang sebuah mimpi dan penafsirannya. Bukan berarti beliau mampu menerjemahkan mimpi seperti dalam buku-buku tafsir mimpi, tapi lebih pada bagaimana pengalaman hiduupnya.
Ada sebuah ihwal tentang kehidupan yang masih belum kupahami, sayangnya bertanya melalui telepon dan sambungan seluler tidak memuaskan bagiku. Ada sesuatu yang tidak sampai dan ada sesuatu yang tidak bisa dicerna hanya melalui suara. Mungkin ini bisa jadi karena sudah terbiasa, setiap ada pertanyaan-pertanyaan akan bertemu secara langsung atau bisa jadi ada rasa haru yang kubutuhan untuk menepis ragu-ragu sifatku.
Pelajaran dari Seorang Ayah
Pelajaran dari Seorang Ayah
Namun tidak mengapa, tetap akan aku sampaikan kepadamu melalui tulisan ini. Siapa tahu seseorang membaca dan menyampaikannya padamu, karena sepengetahuan anakmu ini orang-orang sekarang cukup intens berselancar di dunia maya dan cukup betah beramah-tamah dengan navigasi dan menu-menu sosial media.

Waktu itu kau pernah bilang kan, Yah?
Hidup adalah kepulangan yang tidak perlu dipertanyakan waktunya dan mengenai jalannya adalah baik tidaknya sebuah amalan.
Dari apa yang dibilang waktu itu, ada yang aku pahami: Hidup selalu baik dan ketiadaan adalah kesakralan dari sebuah ketetapan yang tak bisa dilawan akal apalagi ditawar-tawar oleh perasaan. Tapi bagaimana dengan kebenaran dan kesalahan dalam hidup, apakah ia terlepas dari kata baik dan benar? Dan seperti apa sebenarnya baik dan benar itu? Atau begini saja, apakah yang baik sudah tentu benar dan benar apakah sudah termasuk baik?

Pertanyaan lain yang ingin kusampaikan mengenai kabar kehidupan. Ranum senja usia. Aku selalu bertanya-tanya, bagaimana jika kelak upaya dan usahamu tak berbuah hasil. Keberhasilan yang banyak dipikirkan orang justru sebaliknya, apakah kau akan berkata:
Tenang saja, setiap jalan ada batu-batu kecil yang kadang membuatmu luka. Akan kau temukan jurang besar yang membuatmu jatuh, tersasar dan hilang arah. Selama kau percaya, hidupmu baik-baik saja maka kepercayaan itu akan membimbingmu pada jalan yang seharusnya.
Kau tahu sendiri kan, bahwa perbincangan dan kabar burung selalu terdengar lebih lantang dari fakta itu sendiri? Kuharap desir angin yang sampai pada telingamu takkan membuatmu percaya bahwa aku hilang kendali dan tak tahu berterima kasih untuk setiap usaha dan jerih payahmu. Terlebih stigma yang distimulasikan pada keadaan oleh tetangga cukup merobek gendang telinga, jika tidak kuat maka sobeklah pendengaran.

Terkait dengan hal yang menjurang pedih tersebut. Semoga tak kau benarkan duduk perkaranya, karena aku selalu tahu batasan dan seperti apa beratnya perjuanganmu. Keringat yang mengalir deras membasahi tubuhmu terkadang seperti kucuran air dari bak mandi.

O iya, hampir lupa … Bagaimana kabarmu hari ini, kudengar kau kemarin sakit dan beristirahat dari panjangnya denting waktu? Maaf jika anakmu ini jarang menghubungi apalagi bertanya tentang kabar baik dan buruk melalui jejaring sosial maupun surat kabar modern. Bukan tidak mau, hanya saja sudah jadi kebiasaan dari dulu. Kau tentu tahu sendiri, kehidupan anak kampung yang tahu kehidupan kota — tapi bukan berarti aku berbuat yang aneh-aneh. Bukan hal itu yang aku maksud, melainkan kebiasaan tanpa telepon seluler.

Waktu dulu, ketika masih Sekolah Dasar, Sekolah Menegah Pertama dan Atas tidak tahu yang namanya HP. Apalagi, surat biasa pun tak pernah kubuat untukmu. Aku cukup ingat dan tersemat dalam tempurung kepalaku, kau selalu bilang:
Jaga diri dan belajar dengan benar. Tidak pernah kau tegaskan, harus berapa kali menghubungimu. — bukan berarti anakmu ini tidak ada inisiatif, melainkan cukup tahu kebiasaanmu.
Yah … Bagaimana perkembangan pekerjaanmu? Masih kerja sendiri atau sudah ada yang membantu? Semoga kau sehat selalu dan merasakan jerih payahmu dari perjuangan anakmu ini. Meskipun jika dihitung dan diibaratkan gundukan gunung keberhasilan, tidak ada kata cukup untuk membalasnya. Setidaknya kau tak perlu bersusah-payah lagi dalam hal pekerjaan dan mengurusi keluarga. Cukup istirahat dengan tenang, menunggu anakmu pulang kerja.

O iya Yah … Bagaimana kabar Ibu dan saudara-saudaraku di sana? Ibu masih sering bilang dan mempertanyakan kepulanganku gak? Karena setiap kali nelpon pasti ditanya: Kapan pulang, sudah makan, dan semacamnya? Kau sering bilang kalau Ibu selalu rindu. Aku paham hal itu tapi ya mau bagaimana lagi, Yah? Ada sesuatu yang harus diselesaikan di sini sebelum akhirnya berjumpa dan bersama. Menenun tawa dan menghasilkan bahagia.
Pahlawan yang Tidak Tercatat di Buku Sejarah
Ayah dan Saudaraku
Ayah tentu tahu betul, kan? Baik kakak, adik, maupun aku selalu seperti balita kecil yang merindukan pelukannya. Tolong sampaikan salamku ini ya, setidaknya untuk sebuah kabar kepadanya.
Bedeh rasa kerrong se tak bisa e obati e ate. Nyopre tak bu ambu saban bakto. Ana’en long mulong bakti se tak ma nyake’ ka ate. Mander e terima ben e berri’ paste sareng pangeran se ma cellep ate.
Sudah dulu ya Yah? Nanti kubuat surat lainnya untuk kamu. Kalau bukan mungkin kuhaturkan salam melalui puisi:

Se ma nyaman ate
ben ma cellep panas akal
bedeh rasa se tak paste
tak bisa e bitung are:
omor ben pateh

Nyopre saban are;
bile dateng bakto e budi are
mander gusti apareng rejeki
ma polong sa keluarga e kennengan se nyaman
soarge moga-moga e pa deddi ganti
amal dari arabat nak potona.

***

Kita tidak perlu risau meski sejarah tidak mencatatanya. Pun kita tidak perlu berkecil hati karena sebuah keterbatasan yang melilit keadaan. Kita hanya oleh percaya, segala perbuatan yang diperas dari keringatnya kelak membuahkan hasil. Hilangkan segala kerisauan dan keraguan, sebab hidup selalu mengajarkan bahwa ada sosok tangguh yang tak pernah alpa berjuang; menabahkan segala semoga dan mengamini butir-butir doa.

Yang meragukan, biarkan saja dan yang menyepelekan jangan dijadikan beban. Hidup terus berlanjut meski cacian dari pertanyaan datang dari banyak orang. Teruslah bergerak, jalani, dan bentangkan segala mimpi; melangit tanpa sekalipun takut dikembumikan. Jika kita kekurangan pengalaman soal hidup, belajarlah kepada kedua orang tua. Mereka cukup pandai dan ahli perihal memaknai kehidupan dan selalu tahu bagaimana caranya bersikap tegar; lapang dada dan bersyukur.

Teguh dan tergarlah sebab perjuangan tidak pernah ada yang sia-sia. Perihal doa yang selalu dipertanyakan, cukup serahkan kepada Tuhan. Ia mengetahui apa yang dibutuhkan dan tidak. Jalani saja segala hal yang ada di depan mata, pertahankan apapun yang sudah digenggam. Kelak Tuhan akan meninscayakan segala doa yang lupa diingat.
Tulisan ini adalah sebuah salam yang tidak bisa diucapkan kepada orang tuaku, entah karena perbedaan jarak dan waktu. Tapi aku meyakini, pesan dan perasaan yang mengalir bisa dirasakan oleh mereka meski tanpa sepatah kata pun keluar dari bibir ini.

17 Februari 2020

Warisan
Warisan - Kematian tidak pernah menakutkan bagi mereka, mereka hanya takut jika perutnya tidak terisi penuh; merasa risau jika ada yang mengatakan:
Jatah kami sebagai rakyat di kantong jasnya dan di dasinya nafas kami digantung
Kehidupan bagi mereka tidak lebih dari perjudian kartu - Texas Holdem - yang hanya menyebutkan siapa pemenangnya.
Nasib Rakyat
Warisan
Kita tak lebih dari onggokan daging
berakhir di mulut-mulut para babi
dilumat habis tak tersisa, di pinggiran bibirnya
kan kau temukan sisa-sisa kepalsuan
sengaja dibiarkan.

Untuk apa?
Untuk kalian ketahui, bahwa masih banyak
sabda mereka yang lebih basi
seperti nasi yang dibiarkan berminggu-minggu.
Dipenuhi ulat
dan membusuk ke penjuru negeri.
Negeri yang luas ini seperti gelanggang bagi mereka untuk bertaruh perihal kekuasaan dan mereka tidak pernah mengenal kata “ampun” bagi siapapun yang menghalangi kejayaannya.
Pojok negeri ini menceritakan
kisah carut marutnya kehidupan
kaum terbawah dan dipinggirkan.

Mereka yang mengantongi puluhan juta
mana mau mengunjungi kami - kata salah satu kawanku
yang waktu itu mati terkapar di bumi pertiwi
untuk mempertahankan warisannya.

Ada juga yang menangis di reruntuhan
dan hanya bisa menatap alat berat meratakan rumahnya
dalam isaknya ia berkata:
“Kelak, jiwa-jiwa kami seperti gembala
dan tubuh kami ini hanyalah kambing
di padang sahara”.

Kami terpinggirkan dari tanah sendiri dan meninggal di bawah jembatan tanpa pernah merasakan kasur yang empuk. Kelak jika negeri ini telah menjadi lautan darah dan ambang pintunya tak lebih tipis dari kapas, semoga saja orang-orang selain kami bisa merasakan atap rumah yang menenangkan dan menyelematkan dari terik. Doa-doa kami tetap melangit, meninggi dan tak pernah merasa takut tersangkut bintang-bintang kemudian diambil oleh Ifrit dan dibawa ke neraka.

Bagi kami orang-orang yang terbiasa bertarung dengan nasib, merasa terjajah dan merasa asing di negeri sendiri adalah satu keharusan untuk tidak menyerah dan tunduk pada penindasan. Kami tetap berpegang teguh, budi luhur adalah hal yang utama dan perihal melawan bukanlah pengekakan melainkan menunaikan kewajiban; melepaskan diri kebejatan dan kemungkaran.
Tulisan ini adalah sebuah refleksi dari beberapa kejadian penggusuran, pengambilan lahan, dan perampasan hak. Ditulis pada 05 Februari 2020 di Yogyakarta

16 Februari 2020

Jalan Lain Kaum Difabel
Jalan Lain Kaum Difabel - Dua buah puisi di bawah ini (sebut saja sebagai ilusterasi) yang diambil dari buah pikir seorang tokoh dan penulis. Menceritakan kembali wajah pendidikan kita, mengingatkan bahwa sejarah terkadang tidak utuh dan cerita-cerita di atas sebuah kertas berbentuk teks tak lebih dari propaganda, diusung untuk mensejahterakan bebepa golongan.
Puisi Tentang Pendidikan
Jalan Lain Mashour Fakih
Bagaimana rupa pendidikan kita? Masihkah tercermin seperti masa Kolonialisme, Orde Baru, maupun masa-masa di mana dianggap kebebasan dan hak semua orang terjamin? Coba ingat-ingat lagi pelajaran sekolah tentang sebuah sejarah panjang negeri ini? Apakah pernah diceritakan bagaimana orang-orang kelas bawah mensejahterakan dirinya dengan melepaskan diri dari penjajahan?

Kita lihat kembali masa-masa di mana kesusastraan Indonesia (sejarah dan perkembangannya) mulai dari generasi Balai Pustaka, Pujangga Baru, Gelanggang atau yang biasa disebut dengan Angkatan ‘45 dan Angakatan setelahnya sampai sekarang. Hampir keseluruhan didorong karena sebuah ideologi dan pemangku kekuasaan yang ingin melanggengkan diri dengan menjadikan sastra sebagai propaganda. Coba ingat-ingat kembali bagaimana sejarah sastra diperkenalkan di sekolah, ia tak lebih dari fiktif yang meninggalkan kritisismenya; membiarkan orang-orang merasa nyaman.

Ketika memperdalam sebuah pengetahuan tentang sebuah sejarah, maka akan ditemukan sedikit gambaran (hipotesis) bahwa sejarah tak lebih dari telenovela yang diceritakan dengan lugas dan nyaman, banyak fakta yang belum diungkapkan di masa dulu dan (mungkin) akan tetap terkubur dalam di bawah kekuasaan.

Mungkin kata-kata dari seorang diktator Nazi ini bisa memberikan pengertian:
Dengan penggunaan yang terampil dan berkelanjutan, seseorang dapat membuat orang lain melihat surga sebagai neraka atau kehidupan yang sangat menyedihkan sebagai surga - [Adolf Hitler]
Kebohongan yang konsisten disampaikan oleh penguasa secara berulang-ulang akan menjadi kebenaran - [Adolf Hitler]

Jalan Lain Masour Fakih 

Jalan Lain[1], diwartakan Dr. Mansour Fakih
Manifesto yang berlisan tanpa ajaran
Pada masa silam. Seribu tahun jika ingatan tak salah

“Sudah lama kita menyaksikan kejadian[2]” yang begitu haru
di tengah pertumbuhan masa remaja
bagai gugusan bintang-bintang
Jatuh terinjak-injak dan terkubur
: dikebumikan lalu dilupakan

“Sistem sosial dan budaya yang tengah kita dirikan
Roboh berjatuhan tak sanggup menyangga beban[3]”

Beban yang begitu berat dan tak sanggup ditanggung akal
Mengejewantahkan logika dan iman
Serupa mayat-mayat bergelantugan
dipenggal di rumah jagal
lalu dibagikan pada anjing liar
yang tengah asyik kencing sambil menertawakan kebebasan
: Sosialisme kadang di salah pahami

Panggil Saja Kami Kaum Difabel

Kadang mereka memanggil kami sebagai tuan yang gagal
Dalam kehidupan baik kepercayaan maupun kesejahteraan
Seakan-akan mereka menentang penuh benar
Mewahyukan diri sebagai utusan
Di atas mimbar penuh kekuasaan yang dibanggakan

Kiri adalah persoalan dan kanan adalah jawaban benar
Seandainya dipahami, sudut pandang bukanlah kebenaran
Melainkan pemaknaan untuk diselaraskan
Mereka memangil kami sebagai penyakitan
Menggerogoti teori-teori dasar pengetahuan

Katanya proses adalah menuju pembelajaran
Tapi bagi mereka ini adalah sebuah penistaan
Mengkambinghitamkan ajaran dan kepercayaan
Lalu dengan sengaja mengkafirkan Tuhan lain
Dengan dalih iman dan ketaqwaan

Mereka bilang, ini adalah sebuah paham yang tak pernah padam
Sebagian dari mereka mengganjar dirinya sebagai pendidik alternatif
Melihat kebenaran tapi tertutup busuk dan picik logikanya sendiri

Mari kita kembali membuka sebagian sejarah
Yang dijadikan kurikulum dalam sekolah
Adakah sejarah penuh kebenaran atau
Hanya delusi untuk membenarkan pemerintahan?

Mari kita kembali buka altar masing-masing persembahan
Yang dibawa malaikat dan 12 rasul Kristus
Adakah sejarah memihak rakyatnya atau
Katakan saja hal paling sederhana menyoal hak anak atas pendidikan?

Jika masih kurang, cobalah mengingat kepercayaan
Dan ideologi masing-masing yang dipertahankan?
Kembali belajar dan menerjemahkan apa yang benar
Lalu pertanyaan tentang kemanusiaan
Pernahkah terpikir selain kemenangan satu bagian atau golongan?
Lantas masih pantaskah memanggil kami sebagai kaum penyakitan
Tak bermental dan tak mengenal kepribadian?

Yogyakarta, 18 Januari 2020 [Ahmed Fauzy Hawi]

Catatan Kaki:

  1. Jalan Lain adalah sebuah buku yang ditulis oleh Dr. Mansour Fakih. Buku ini mengangkat tema tentang pendidikan
  2. Diambil dari kutipan buku Jalan Lain, Hal. V dalam prolog bukunya
  3. Ibid

15 Februari 2020

Pemikiran dan Konsepsi John Adam Smith dan John Maynard Keynes
Pemikiran dan Konsepsi John Adam Smith dan John Maynard Keynes - Sejarah ekonomi memiliki caranya sendiri dalam perkembangannya. Sejarah ilmu ekonomi muncul ketika John Adam Smith menerbitkan karyanya yang berjudul Wealth of Nations (1770). Pertama adalah bersifat tematik, yaitu yang lebih menekankan aspek kegiatan ekonomi atau tema-tema ekonomi dalam sejarah. Kedua ialah bersifat paradigmatik, yaitu faktor ekonomi dijadikan sebagai skema mental atau asas falsafah dalam mengkaji sejarah.
Sejarah Ekonomi Klasik dan Modern
Pemikiran John Marynard Keynes
Bidang sejarah ekonomi berkembang pesat dalam abad ke-20 masihi sehingga membentuk dua aliran, yaitu aliran sejarah ekonomi tradisional yang bersifat menyeluruh dan aliran sejarah ekonomi baru atau disebut sebagai cliometrics yang bersifat terlalu khusus kepada persoalan ekonomi semata-mata.

Adam Smith dikenal sebagi pencetus pertama mengenai free-market capitalist, kebijksanaan laissez-faire sekaligus merupakan bapak ekonomi modern. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, atau yang biasa disingkat “The Wealth of Nation” adalah buku terkenal oleh Adam Smith yang berisi tentang ide-ide ekonomi yang sekarang dikenal sebagai ekonomi klasik. Dalam bukunya The Wealth of Nations, Smith juga mendukung prinsip “kebebasan alamiah”, yakni setiap manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan pemerintah.

Tentu setiap sesuatu akan ada yang memikirkannya. Pemikiran ekonomi tentunya memiliki rujukan konsepsi dan teori, siapa yang membuatnya dan mengacu kepada apa. Sebab terjadinya sesuatu akan mengarah langsung kepada pokoknya, adalah ketika pemikiran muncul maka teori dan konsepsi akan muncul mengirinya.

Tulisan ini akan mengkaji sedikit mengenai sejarah pemikiran yang diperkenalkan oleh John Adam Smith dan John Maynard Keynes. Untuk lebih jelasnya silahkan lihat uraian yang ada di bawah ini.

Pemikiran Adam Smith

Adam smith mulai dikenal ketika ia menerbitkan karyanya yang berjudul “Wealth of Nations” pada tahun 1770. Sejarah dimulainya pemikiran ekonomi klasik yang mengacu pada konsepsi yang dibawa oleh Adam Smith. Adam Smith dikenal sebagi pencetus pertama mengenai free market capitalist, kebijksanaan laissez-faire sekaligus merupakan bapak ekonomi modern. An Inquiry into the Nature and Causes of the Wealth of Nations, atau yang biasa disingkat “The Wealth of Nation” adalah buku terkenal oleh Adam Smith yang berisi tentang ide-ide ekonomi yang sekarang dikenal sebagai ekonomi klasik.

Dalam bukunya The Wealth of Nations, Smith juga mendukung prinsip “kebebasan alamiah”, yakni setiap manusia memiliki kebebasan untuk melakukan apa yang diinginkannya tanpa campur tangan pemerintah.Adam Smith, sebagai seorang pemikir memiliki kerangka berpikir yang sistematis dan tertarik pada perilaku manusia (human conduct). Sebagai seorang filsuf moral Smith tertarik pada masalah-masalah ekonomi, terbukti pada catatan perkuliahannya antara tahun 1760-1764 tentang filsuf moral terdapat beberapa poin yang menyinggung masalah ekonomi. Dalam pemikirannya Adam Smith banyak dipengaruhi oleh beberapa pemikir-pemikir besar sebelumnya.

Kemajuan besar ajaran ekonomi adalah saat Smith melakukan emansipasi terhadap kedua belenggu kaum merkantilis dan physiokrat. Labih dari duaratus tahun para ahli ekonomi mencari sumber kemakmuran. Kaum merkantilis menemukan sumber kemakmuran pada perdagangan internasional, sedangkan kaum physiokrat menemukannya pada lebih jauh lagi dan beranggapan bahwa kemakmuran yang asli didapat dari pengaruh perdagangan terhadap produksi, pada saat itu hanya ada satu macam produks yaitu pertanian.

Berbicara mengenai arti nilai dalam ekonomi, Smith mengidentifikasikan barang memiliki dua nilai yakni nilai guna (value in use) dan nilai tukar (value in exchange). Nilai tukar barang akan ditentukan oleh jumlah tenaga (labor) yang diperlukan salam menghasilkan barang tersebut, sedangkan nilai guna adalah nilai kegunaan atau fungsi barang itu sendiri (Deliarnov, 2010).

Dalam ekonomi klasik, utility tidak menjadi kajian dalam pelbagai teori yang dibawa olehnya baik dari segi nilai, labor ataupun pertumbuhan. Dalam teori klasik, nilai kesetimbangan lah yang menjadi patokan harga dibandingkan nilai-nilai penawaran dan permintaan (supply and demand). Sedangkan dalam neoklasik, nilai keperluan menjadi prioritas utama disamping nilai kesetimbangan yang juga digunakan dalam mengontrol supply and demand (Button, 2014). Dari segi nilai (value), ekonomi klasik dan neoklasik memiliki definisi yang sangat berbeda. Dalam teori klasik, nilai suatu barang sama dengan harga yang digunakan dalam produksi.

Dari penjelasan di atas bisa diambil kesimpulan bahwa Adam smith dengan teori klasiknya telah mengawali perkembangan dan pertumbuhan ekonomi, karenanya tidak salah apabila dia disebut sebagai bapak ekonomi.

Konsepsi John Maynard Keynes

John Maynard Keynes, atau sering disebut J.M. Keynes atau Keynes, definisinya berorientasi pada kebijaksanaan dan beliau memberikan definisi yang bersifat umum yaitu:
Ilmu ekonomi adalah ilmu yang menyangkut tentang kebijaksanaan guna mengatasi masalah yang mendesak termasuk masalah pengangguran yang ada (dalam bukunya yang sangat terkenal dengan judul: General Theory of Employment Interest and Money yang diterbitkan tahun 1938). Penekanannya pada perluasan lapangan kerja, dan peningkatan pendapatan.
Keynes yang lebih condong kepada pemikiran modern, pemikiran yang dibawa oleh keynes adalah teori mengenai sesuatu yang mencakup lebih besar dari pemikiran Adam Smith. Keynes berhasil melakukan escape dari masa lalu, yaitu dari tradisi laissez faire yang dianut pakar-pakar ekonomi masa silam seperti Adam Smith, David Richardo dan gurunya sendiri Alfred Marshall. Keynes kemudian berhasil membentuk suatu “bangunan rumah utuh” dalam struktur teori-teori ekonomi baru, sehingga terjadi revolusi baik dalam teori bahkan kebijakan ekonomi.

Pandangan Keynes sering dianggap sebagai awal dari pemikiran ekonomi modern. Keynes banyak melakukan pembaharuan dan perumusan ulang doktrin-doktrin klasik dan neo-klasik. Karena Keynes menganggap peran pemerintah perlu dalam melaksanakan pembangunan, sehingga Keynes sering disebut “Bapak Ekonomi Pembangunan”. Selain itu, ia juga disebut “Bapak Ekonomi Makro”, sebab dahulu dalam tradisi klasik maupun neo-klasik analisis-analisis ekonomi lebih banyak bersifat mikro, sejak Keynes analisis ekonomi juga dilakukan secara makro. Hal itu dilakukan dengan melihat hubungan di antara variabel-variabel ekonomi secara besar-besaran.

Literatur:
  • Becker. Gary.S., 2007, Economic Theory, New Jersey, Transaction Publishers
  • Deliarnov, 2010, Perkembangan Pemikiran Ekonomi, Jakarta, Rajawali Pers
  • Skousen, Mark., 2007, Sang Maestro Teori-Teori Ekonomi Modern, Jakarta, Prenada Media
  • Wikipedia.com Sejarah Ekonomi di akses jam 01:21 WIB
  • http://www.ehow.com/info_7904133_difference-between-classical-neoclassical-economics.html. (Di akses jam 01:48 WIB)